Pangeran Bahagia
Sang Pangeran dan burung layang-layang, ilustrasi Walter Crane untuk edisi pertama 1888. Gambar: Crane, Walter, 1845-1915 · Public domain · sumber
Di atas tiang tinggi di tengah kota berdiri patung Pangeran Bahagia. Tubuhnya berlapis daun emas tipis, matanya dua batu safir, dan sebutir delima merah berkilau di gagang pedangnya. Semua orang mengaguminya. Para pejabat kota memujinya sebagai hiasan yang indah, para ibu menjadikannya contoh bagi anak yang rewel.
Suatu malam seekor burung layang-layang kecil hinggap di kakinya. Teman-temannya sudah enam minggu terbang ke Mesir, dan ia sedang menyusul. Baru saja hendak tidur, setetes air jatuh, lalu setetes lagi. Langit cerah. Ia mendongak. Patung itu menangis.
“Semasa hidup aku tinggal di istana, tak pernah melihat kesusahan,” kata sang Pangeran. “Sekarang aku berdiri setinggi ini dan melihat semua kepedihan kotaku. Hatiku dari timah, tetapi aku tetap menangis.”
Jauh di sebuah gang, kata sang Pangeran, seorang penjahit menyulam gaun pesta untuk dayang ratu. Anaknya demam dan merengek minta jeruk, sedangkan ibunya hanya punya air sungai. Ia memohon agar layang-layang mengantarkan delima dari pedangnya.
“Aku ditunggu di Mesir,” kata burung itu. Namun wajah sang Pangeran begitu sedih sehingga ia setuju tinggal semalam. Delima itu ia letakkan di meja si penjahit, lalu ia mengipasi kening anak yang demam dengan sayapnya. Aneh, sesudahnya ia merasa hangat, padahal udara dingin.
Malam berikutnya ia pamit, tetapi sang Pangeran menunjukkan seorang pemuda di loteng yang berusaha menyelesaikan naskah sandiwara. Tidak ada kayu bakar, dan ia hampir pingsan karena lapar. “Tinggal bersamaku semalam lagi. Cungkil sebelah mataku. Safir ini berasal dari India, dan seribu tahun usianya.”
Burung itu menangis. “Aku tak sanggup.” Namun ia melakukannya juga.
Malam ketiga ia datang mengucapkan selamat tinggal. Di alun-alun, seorang gadis penjual korek api menangis karena dagangannya jatuh ke selokan, dan ayahnya akan memukulnya jika ia pulang tanpa uang. “Cungkil mataku yang satu lagi.”
“Kau akan buta!”
“Lakukanlah.”
Setelah menjatuhkan safir itu ke tangan si gadis, layang-layang kembali. “Sekarang kau buta,” katanya. “Aku akan tinggal bersamamu selamanya.”
Ia tidak lagi menyebut Mesir. Ia terbang ke seluruh kota menjadi mata sang Pangeran, lalu bercerita tentang orang-orang kaya yang bersenang-senang dan orang miskin di bawah jembatan. “Tubuhku berlapis emas,” kata sang Pangeran. “Lepaskan selembar demi selembar, bagikan kepada orang miskin.” Sedikit demi sedikit patung itu menjadi kusam dan abu-abu, sementara wajah anak-anak miskin kembali merona.
Salju turun. Burung kecil itu tidak mau pergi, meski makin hari makin kedinginan. Ia makan remah roti di depan toko dan menghangatkan diri dengan mengepakkan sayap. Ia tahu waktunya hampir habis. Dengan sisa tenaga ia hinggap di bahu sang Pangeran.
“Selamat tinggal, Pangeran. Bolehkah kucium tanganmu?”
“Aku senang kau akhirnya berangkat ke Mesir. Kau terlalu lama di sini. Ciumlah bibirku, sebab aku menyayangimu.”
“Aku bukan pergi ke Mesir. Aku pergi ke Rumah Maut.”
Ia mencium sang Pangeran, lalu jatuh mati di kakinya. Pada saat itu terdengar bunyi retak dari dalam patung. Hati timahnya patah menjadi dua.
Esok paginya wali kota dan para pejabat lewat. “Astaga, lusuh sekali patung ini! Permatanya hilang, emasnya habis, malah ada burung mati di kakinya.” Patung itu diturunkan dan dilebur. Hanya hati timah yang patah itu yang tidak mau meleleh. Para pekerja membuangnya ke tumpukan sampah, tempat burung mati itu juga dibuang.
“Bawakan kepada-Ku dua benda paling berharga di kota itu,” firman Tuhan kepada seorang malaikat.
Malaikat itu membawa sebuah hati timah dan seekor burung mati.
💖 Pesan Moral
- Kemewahan dapat menutup mata. Sang Pangeran baru mengenal penderitaan setelah berdiri tinggi dan tak bisa bergerak.
- Memberi yang sungguh-sungguh terasa kehilangannya. Yang diberikan sang Pangeran adalah matanya sendiri.
- Dunia sering menilai dari kilau luarnya. Yang disebut lusuh oleh para pejabat justru paling berharga di mata Tuhan.
- Kebaikan kecil menular. Seekor burung yang ingin singgah semalam akhirnya memberi seluruh hidupnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Oscar Wilde, “Pangeran Bahagia”, dalam kumpulan The Happy Prince and Other Tales (1888).