Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ivan si Dungu

4 menit baca

Lukisan Ilya Repin yang menggambarkan Tolstoy sendiri membajak ladang, kerja tangan yang dipuji dalam kisah Ivan si Dungu. Gambar: Ilya Repin · Public domain · sumber

Seorang petani kaya punya tiga anak laki-laki: Simon si Prajurit, Taras si Gendut, dan Ivan si Dungu. Ada pula adik perempuan mereka, Marta, yang bisu. Simon mengabdi kepada raja, Taras berdagang di kota, sedangkan Ivan tinggal di rumah dan mencangkul sampai punggungnya bungkuk.

Ketika Simon dan Taras datang meminta bagian harta, Ivan hanya mengangguk. “Ambil saja. Nanti aku kerja lagi.” Tidak ada pertengkaran sama sekali, dan itu membuat Iblis Tua kesal. Ia mengutus tiga setan kecil untuk mengadu domba ketiga bersaudara.

Dua setan cepat berhasil. Simon kalah perang, Taras terlilit utang, dan keduanya pulang menumpang pada Ivan. Setan ketiga kewalahan. Ia mengeraskan tanah, membuat perut Ivan sakit, dan memegangi mata bajak, tetapi Ivan terus membajak sambil mengerang. Akhirnya setan itu tertangkap tangan, lalu dua temannya menyusul. Demi nyawa, mereka menyerahkan ilmu masing-masing: akar penyembuh, cara mengubah berkas jerami menjadi prajurit, dan cara menggosok daun ek menjadi uang emas. Setiap kali dilepaskan, Ivan berkata, “Tuhan besertamu,” dan setan itu langsung amblas ke dalam tanah.

Ivan memakai prajurit jerami untuk bernyanyi di pesta desa, dan emasnya ia lempar sebagai mainan. Simon dan Taras yang mendengar kabar itu langsung datang meminta. Dengan senang hati Ivan memberi, sampai suatu hari ia berhenti.

“Prajuritmu membunuh orang,” katanya kepada Simon. “Kukira mereka hanya pandai main musik.” Kepada Taras ia berkata, “Uang emasmu mengambil sapi anak-anak Mikhail. Kukira itu cuma mainan.”

Akar penyembuh terakhirnya ia berikan kepada seorang pengemis perempuan yang lengannya cacat, padahal ia sedang berangkat untuk mengobati putri raja. Anehnya, begitu Ivan melangkah ke ambang pintu istana, sang putri sembuh. Ivan menikahinya, lalu menjadi raja. Namun jubahnya ia simpan di peti dan ia kembali membajak. “Raja juga harus makan,” katanya. Orang-orang pintar pergi dari negerinya. Yang tinggal hanya orang-orang sederhana yang makan dari hasil kerja sendiri dan tidak punya uang sama sekali.

Iblis Tua turun tangan sendiri. Simon ia hasut berperang sampai kalah habis. Taras ia kalahkan dengan membeli semua barang dan tenaga lebih mahal, sampai sang raja kelaparan di tengah tumpukan uangnya. Di negeri Ivan, cara itu gagal. Tidak ada yang mau menjadi tentara. Ketika raja tetangga menyerbu, rakyat Ivan tidak melawan, malah mengajak para serdadu tinggal bersama. Serdadu itu akhirnya bosan, lalu bubar.

Iblis mencoba lagi dengan menyamar sebagai tuan yang membayar kerja dengan emas. Mula-mula orang senang. Emas itu dijadikan kalung dan mainan anak-anak. Setelah semua orang punya, tak ada lagi yang mau menerimanya. Sang tuan lapar di tengah karung emasnya. Di rumah Ivan, Marta memeriksa tangan setiap tamu. Yang telapaknya kapalan duduk di meja, yang halus menunggu sisa.

Tuan itu berkata tangannya halus karena ia bekerja dengan kepala, dan kerja itu jauh lebih berat. Ivan tertarik dan mengundang seluruh rakyat. Dari puncak menara, sang tuan berpidato berhari-hari tentang cara hidup tanpa bekerja. Tak seorang pun mengantarkan makanan, sebab bukankah ia bisa mencari roti dengan kepalanya? Ia mulai lemas, kepalanya terantuk tiang, lalu jatuh berguling di tangga, satu anak tangga satu benturan.

“Benar juga katanya,” ujar Ivan. “Kerja dengan kepala memang bisa bikin kepala pecah.” Lalu bumi terbuka, dan sang tuan lenyap ditelannya. Hanya sebuah lubang yang tersisa.

Kerajaan Ivan masih berdiri. Saudara-saudaranya pun menumpang di sana. Siapa pun boleh tinggal, dengan satu adat: yang tangannya kapalan makan di meja, yang tidak menunggu sisanya.

💖 Pesan Moral

  • Tanyakan akibat dari apa yang kita berikan. Ivan berhenti memberi begitu tahu pemberiannya melukai orang lain.
  • Uang hanya berharga selama orang mau menukarnya. Roti, tenaga, dan sesama manusia tetap lebih nyata.
  • Kerja tangan layak dihormati. Pandai berbicara tidak otomatis lebih mulia daripada pandai mencangkul.
  • Kesederhanaan bisa menjadi benteng. Bujukan sukar masuk kepada orang yang tidak menginginkan apa-apa darinya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng karya Leo Tolstoy, “Kisah Ivan si Dungu” (ditulis 1885, terbit 1886), dalam versi yang diringkas.