Sup Tetangga Demyan
Lukisan A. A. Popov: Demyan menyodorkan sesendok lagi, sedangkan tamunya sudah kenyang sampai ke tenggorokan. Gambar: Andrey Andreevich Popov · Public domain · sumber
“Tetanggaku sayang, cahaya hatiku, ayo makan lagi.”
“Tetanggaku yang baik, aku sudah kenyang sampai ke tenggorokan.”
“Tidak apa-apa! Sepiring lagi saja. Dengar, sup ikan ini, sumpah, sungguh hebat masakannya!”
“Aku sudah makan tiga piring, Demyan.”
“Ah, buat apa dihitung! Yang penting ada selera. Makanlah sampai dasar piring, demi kesehatan! Sup macam apa ini! Lihat betapa berlemaknya, mengilap di permukaan seperti batu ambar. Senangkanlah aku, kawan kecilku. Ini ada ikan bream, ini jeroannya, ini sepotong sturgeon! Sesendok lagi saja! Ayo, istriku, membungkuklah dan silakan dia!”
Begitulah Demyan menjamu tetangganya, Foka. Ia tak memberi tamunya waktu untuk bernapas atau menaruh sendok. Istrinya berdiri di samping dengan panci. Demyan sendiri mondar-mandir di dekat meja dengan wajah berseri-seri, tulus dan gembira, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan paling mulia sedunia.
Foka sebenarnya suka sekali sup ikan. Ia datang dengan senang hati. Piring pertama ia nikmati, piring kedua masih terasa enak, dan piring ketiga ia habiskan demi sopan santun. Tetapi kini keringat sudah lama bercucuran di wajahnya seperti hujan es. Sabuknya terasa sempit. Bau ikan mulai terasa di belakang matanya.
Namun ia orang yang tahu adat. Ia tidak mau melukai hati tuan rumah. Ketika piring berikutnya didorong ke depannya, ia memegang sendok, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, dan berjuang. Satu sendok. Dua sendok. Pelan-pelan piring itu tandas.
Demyan bersorak.
“Nah! Sahabat seperti inilah yang aku sayangi! Aku tidak tahan dengan orang yang suka jual mahal. Ayo, sepiring lagi, sayangku!”
Mendengar itu, Foka yang malang berhenti bergerak. Betapapun cintanya ia pada sup ikan, ini sudah menjadi bencana. Ia menyambar sabuk dan topinya dalam satu pelukan, bangkit tanpa sepatah kata, dan lari pulang secepat yang bisa dilakukan perutnya.
Sejak hari itu, Foka tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah Demyan.
Dan pengarang, berbahagialah engkau kalau memang punya bakat sejati. Tetapi kalau engkau tak tahu kapan harus diam dan tak menyayangi telinga sesamamu, ketahuilah: prosa dan puisimu akan lebih memuakkan bagi semua orang daripada sup Demyan.
💖 Pesan Moral
- Yang baik pun ada takarannya. Hal yang enak di piring pertama bisa menjadi siksaan di piring kelima.
- Keramahan harus mendengarkan tamu. Kalau orang berkata “cukup”, hormatilah kata itu.
- Tahu kapan berhenti adalah keahlian tersendiri. Ini berlaku bagi penulis, pembicara, dan siapa saja yang sedang memegang mikrofon.
- Bila seorang tamu mulai memeluk topinya, sudah waktunya menutup panci.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Ivan Krylov “Demyanova ukha” (1813). Menurut catatan M. Lobanov, Krylov membacakannya di perkumpulan sastra Beseda seusai pembacaan sebuah karya yang amat panjang, dan hadirin tertawa riuh. “Sup Demyan” kemudian menjadi ungkapan dalam bahasa Rusia.