Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Rubah Tanpa Ekor

2 menit baca

Rubah yang kehilangan ekor berpidato di hadapan kaumnya. Gambar: Samuel Howitt · CC0 · sumber

Ekor adalah kebanggaan setiap rubah. Tebal, panjang, berujung putih, dan selalu dirawat dengan teliti. Itulah sebabnya rubah dalam kisah ini merasa hidupnya hancur pada hari ia terjerat perangkap pemburu.

Ia meronta sepanjang malam. Menjelang pagi ia berhasil lolos, tetapi ekornya tertinggal di dalam jepitan besi.

Luka itu sembuh dalam beberapa minggu. Rasa malunya tidak. Ia menghindari jalan-jalan yang biasa dilewati rubah lain. Ia berjalan menyamping agar bagian belakangnya tak terlihat. Saat minum di sungai, ia melihat bayangannya dan cepat-cepat berpaling. Ia yakin, begitu kawan-kawannya tahu, ia akan menjadi bahan ejekan selama sisa hidupnya.

Berhari-hari ia memikirkan jalan keluar. Ekor itu tak mungkin kembali. Tetapi kalau semua rubah tidak punya ekor, tak akan ada yang aneh pada dirinya. Bukankah begitu?

Ia pun menyebarkan kabar bahwa ada urusan penting bagi seluruh kaum rubah, dan semua diundang berkumpul di bawah pohon besar di tepi hutan. Ia datang lebih dahulu dan duduk di atas akar yang tinggi, dengan punggung menempel ke batang pohon. Rubah-rubah pun berdatangan, memenuhi batu dan tanah di sekitarnya, dengan ekor-ekor megah melingkar di kaki mereka.

Si rubah berdehem.

“Saudara-saudaraku, sudah lama aku memikirkan nasib kita. Coba renungkan, apa sebenarnya gunanya ekor? Benda itu berat dan menyusahkan saat berlari. Menyapu lumpur dan menarik perhatian pemburu. Dan terus terang saja, bentuknya pun kurang bagus.”

Ia berhenti sejenak untuk melihat reaksi mereka.

“Aku sendiri sudah membuangnya, dan tubuhku terasa jauh lebih ringan. Aku mengusulkan kita semua memotong ekor kita. Hidup kita akan jauh lebih mudah.”

Beberapa rubah muda saling memandang. Pidato itu terdengar cukup masuk akal. Sebagian mulai menoleh ke ekor mereka sendiri dengan ragu.

Lalu seekor rubah tua di barisan belakang bangkit perlahan. Ia berjalan mengitari pohon, melihat ke balik punggung si pembicara, dan mengangguk-angguk.

“Kawanku,” katanya tenang, “kalau kau sendiri tidak kehilangan ekor, rasanya kau tidak akan begitu bersemangat menyuruh kami memotong ekor kami.”

Terdengar tawa dari sana-sini. Satu per satu rubah berdiri, mengibaskan ekornya, dan pulang.

💖 Pesan Moral

  • Tanyakan apa kepentingan orang yang memberi nasihat. Saran yang terdengar bijak kadang lahir dari kerugian pribadi.
  • Jangan mengajak orang lain ikut rugi agar diri sendiri tidak terlihat rugi. Malu tidak berkurang dengan menambah korban.
  • Menerima kehilangan lebih ringan daripada menutupinya. Rubah itu lebih tersiksa oleh malunya daripada oleh lukanya.
  • Satu pertanyaan jujur bisa mengakhiri pidato yang panjang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Fox Without a Tail”.