Gagak Berbulu Pinjaman
Burung hitam berbulu pinjaman di hadapan merak-merak yang sesungguhnya. Gambar: Walter Crane · Public domain · sumber
Burung gagak kecil itu sudah lama tidak puas dengan bulunya. Hitam, kusam, dan sama saja dengan bulu kawan-kawannya. Setiap kali melihat kawanan merak berjalan di taman, ia menghela napas. Mengapa mereka memperoleh warna sebanyak itu, sedangkan ia hanya kebagian warna arang?
Suatu pagi, di tanah dekat tembok taman, ia menemukan beberapa helai bulu merak yang rontok. Warnanya biru kehijauan dan berkilau, dengan bulatan emas di ujungnya. Gagak itu memandanginya lama, lalu menengok ke kiri dan ke kanan.
Satu per satu bulu itu ia pungut dan ia selipkan di antara bulunya sendiri. Ia bercermin di genangan air. Ekornya kini panjang dan berwarna-warni. Lehernya ia tegakkan. Rasanya ia telah menjadi burung lain.
Dengan dandanan baru itu ia terbang menemui kawanan gagak.
“Wah, apa yang terjadi padamu?” tanya seekor gagak tua.
“Sudahlah, kalian tidak akan mengerti,” jawabnya sambil mendongak. “Mulai sekarang aku tidak bisa bergaul dengan burung-burung biasa. Tempatku di sana.”
Ia menunjuk ke arah taman dengan paruhnya, lalu pergi tanpa berpamitan. Para gagak saling memandang dan membiarkannya.
Di taman, ia melangkah masuk ke tengah kawanan merak dengan gaya yang ditirunya dari jauh. Dadanya dibusungkan dan langkahnya dibuat pelan. Mula-mula para merak hanya melirik. Lalu seekor merak tua mendekat dan mengamatinya dari ujung paruh sampai ujung ekor.
“Bulu itu,” katanya perlahan, “rasanya aku kenal.”
Gagak itu mencoba berkata sesuatu, tetapi yang keluar dari tenggorokannya hanya suara serak.
Itu sudah cukup. Merak-merak itu mengepungnya. Paruh-paruh mereka mematuk dan menarik setiap helai bulu pinjaman, dan bersama itu tercabut juga sebagian bulunya sendiri. Dalam waktu singkat ia terkapar di rumput dengan tubuh botak di sana-sini, tanpa sehelai pun warna, dan para merak mengusirnya keluar dari taman.
Dengan badan sakit ia terbang pulang kepada kawanannya. Tentu mereka akan menerimanya kembali, pikirnya. Bagaimanapun, ia gagak juga.
Gagak tua itu menyambutnya di dahan, tetapi tidak bergeser memberi tempat.
“Bukankah kau yang bilang kami hanya burung biasa? Kalau dulu kau cukup puas dengan bulumu, hari ini kau tak perlu dihina oleh mereka dan ditolak oleh kami.”
Gagak itu pun bertengger seorang diri di ujung ranting yang paling jauh.
💖 Pesan Moral
- Yang dipinjam akan diminta kembali, sering kali berikut sebagian dari milik kita sendiri.
- Jangan merendahkan kawan lama demi kawan baru yang belum tentu menerimamu. Jembatan yang dibakar tidak bisa dilewati saat pulang.
- Karya dan prestasi orang lain tidak bisa diakui lama-lama. Pemilik aslinya selalu mengenali bulunya sendiri.
- Tiru ilmunya, jangan tiru tampilannya. Yang pertama bertahan, yang kedua rontok pada pertanyaan pertama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi fabel Aesop “The Bird in Borrowed Feathers”, yaitu versi Phaedrus (Indeks Perry 472) tentang burung gagak kecil (jackdaw) dan bulu merak.