Junaid dan Si Pencuri
Majelis para sufi dalam naskah Nafahat al-Uns, suasana yang akrab dalam kehidupan Junaid dari Baghdad. Gambar: viewer.cbl.ie · Public domain · sumber
Di Baghdad abad kesembilan, nama Junaid disebut dengan hormat oleh para pencari jalan rohani. Banyak orang datang dari jauh untuk mendengar kata-katanya. Akan tetapi rumahnya sendiri, menurut penyair Fariduddin Attar, kosong sampai mengherankan. Tak ada hiasan, tak ada simpanan, tak ada barang yang pantas dilirik.
Suatu malam, seorang pencuri menyelinap masuk ke rumah itu. Mungkin ia mengira rumah seorang guru termasyhur pasti menyimpan sesuatu dari para pengagumnya. Ia meraba-raba dalam gelap, membuka ini dan itu, berpindah dari sudut ke sudut. Kerjanya sia-sia. Tak ada satu pun yang layak dibawa.
Setelah lama mencari, akhirnya tangannya menyentuh selembar kain. Sehelai pakaian, satu-satunya yang bisa diambil. Pencuri itu menggulungnya, lalu menghilang sebelum fajar.
Besok paginya ia pergi ke pasar dan menyerahkan pakaian itu kepada seorang makelar untuk dijual. Pasar Baghdad sedang ramai. Si makelar mengangkat pakaian itu tinggi-tinggi sambil menyebut harganya, dan tak lama kemudian datanglah seorang pembeli yang tertarik.
Namun pembeli itu berhati-hati. Di kota sebesar Baghdad, barang curian bukan hal aneh. Ia memegang-megang kainnya, lalu menggeleng.
“Aku mau membeli, asal ada orang yang mengenal barang ini. Siapa yang bisa memberi kesaksian?”
Si pencuri mulai berkeringat. Siapa yang mau menjamin dirinya? Pada saat itulah, di tengah kerumunan, Junaid kebetulan lewat.
Ia melihat pakaian itu. Tentu saja ia mengenalinya, karena itu miliknya. Ia pun tentu melihat orang yang sedang menjualnya. Sekarang ia tinggal membuka mulut, dan si pencuri akan diseret ke hadapan hakim.
Junaid menghampiri mereka dan berkata kepada si pembeli:
“Aku mengenal barang ini. Belilah.”
Jual beli pun terjadi. Pembeli pulang dengan puas, si pencuri mendapat uangnya, dan sang guru meneruskan langkahnya seakan tak terjadi apa-apa.
Attar menuturkan kisah ini dalam Musibat-nama sebagai pelajaran tentang menahan diri. Sesudah kisahnya berakhir, ia tidak memuji Junaid panjang lebar. Ia malah mengajak pembacanya memandang tanah di bawah kaki mereka. Tanah diinjak setiap hari dan tidak membalas. Tanah menerima apa saja, dan dari tanah pula segala yang hidup tumbuh. Jadilah seperti tanah, kata sang penyair, karena pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi tanah.
💖 Pesan Moral
- Kesabaran diuji saat kita punya kuasa untuk membalas. Junaid memegang nasib si pencuri, dan ia memilih tidak menggunakannya.
- Orang yang tidak terikat pada barang sulit dirampok. Pakaian itu hilang, tetapi ketenangannya tetap ada.
- Kerendahan hati bukan kelemahan. Butuh kekuatan besar untuk diam ketika kita sepenuhnya berhak marah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari sebuah hikayat dalam Musibat-nama karya Fariduddin Attar, Persia. Rincian di luar kerangka syair itu merupakan tambahan penceritaan.