Kafilah dan Si Pejalan Kaki
Arak-arakan unta dan penunggang dalam miniatur Maqamat al-Hariri abad ke-13, mengingatkan pada kafilah yang diikuti si pejalan kaki. Gambar: Yahya ibn Mahmud al-Wasiti · Public domain · sumber
Rombongan haji itu berangkat dari Kufah menuju Hijaz dengan segala perbekalan yang bisa dimuat ke punggung unta. Ada kantong air, karung gandum, tenda, dan para pelayan. Sa’di dari Syiraz, yang kelak menuturkan peristiwa ini, ikut berjalan bersama mereka.
Ketika kafilah mulai bergerak, seorang lelaki ikut melangkah di barisan. Tak ada yang mengundangnya. Ia berjalan kaki, nyaris tak berpakaian, dan tak membawa apa-apa untuk menempuh padang pasir yang sudah menewaskan banyak orang. Sa’di mengamatinya dengan cemas. Orang ini sama sekali tidak punya bekal perjalanan.
Anehnya, lelaki itu tampak paling gembira di antara mereka semua. Sambil melangkah ia bersenandung:
“Aku tak menunggang unta, dan aku pun bukan keledai yang dibebani. Aku bukan tuan bagi para hamba, bukan pula hamba bagi seorang tuan. Aku tak memikirkan kesusahan hari ini, tak pula kesia-siaan masa lalu. Kuhirup napas yang lapang, dan aku hidup sebagai orang merdeka.”
Dari atas untanya, seorang lelaki kaya memperhatikan si pejalan kaki dengan rasa kasihan bercampur jengkel. Ia lalu berseru:
“Hai darwis, mau ke mana kamu? Pulanglah! Kalau kamu teruskan, kamu pasti mati mengenaskan!”
Nasihat itu masuk akal. Siapa pun yang berpikir waras akan mengatakan hal yang sama. Namun lelaki itu seolah tak mendengar. Ia terus melangkah masuk ke padang pasir dengan kaki telanjang.
Hari demi hari kafilah berjalan. Panas membakar pada siang hari, dingin menggigit pada malam hari. Pasir merayap ke dalam makanan dan pakaian. Yang berunta mengeluh punggungnya sakit, yang berjalan mengeluh kakinya melepuh. Si darwis tetap berjalan dengan caranya sendiri, ringan seperti orang yang tidak punya apa-apa untuk dijaga.
Lalu kafilah tiba di kebun kurma Mahmud, tempat rombongan singgah. Di sanalah ajal datang tanpa memberi tahu lebih dulu, dan ajal itu tidak mendatangi orang yang disangka semua orang. Lelaki kaya yang tadi menasihati dari atas untanya meninggal dunia.
Orang-orang mengurus jenazahnya. Si darwis datang mendekat, berdiri di samping keranda, dan berkata:
“Aku tidak binasa dalam kesusahan dengan berjalan kaki, sedangkan engkau menghembuskan napas terakhir di atas punggung unta.”
Dalam Gulistan, Sa’di menutup cerita ini dengan sebuah renungan. Ada orang semalaman menangisi sahabatnya yang sakit, lalu esok harinya dialah yang meninggal, sedangkan si sakit sembuh. Banyak kuda yang gesit rebah di tengah jalan, sementara keledai pincang sampai ke tujuan. Berapa banyak orang kuat dan sehat yang dikuburkan, sementara orang yang terluka justru pulih.
💖 Pesan Moral
- Bekal terbaik tidak selalu terlihat. Hati yang lapang bisa membawa seseorang lebih jauh daripada muatan seekor unta.
- Jangan terlalu yakin membaca nasib orang lain. Yang kita kasihani hari ini bisa jadi lebih panjang umurnya daripada kita.
- Kenyamanan bukan jaminan keselamatan. Ajal tidak memeriksa tunggangan siapa pun.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Gulistan karya Sa’di, Persia (bab kedua, kisah ke-16, terjemahan James Ross).