Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Mimpi Malik bin Dinar

3 menit baca

Miniatur Persia tentang mimpi seorang lelaki yang didatangi utusan dari langit, mengingatkan pada mimpi yang mengubah hidup Malik bin Dinar. Gambar: Junayd · Public domain · sumber

Sebelum namanya disebut dengan hormat di kalangan ahli zuhud Basrah, Malik bin Dinar punya masa lalu yang kelak ia ceritakan sendiri tanpa ditutup-tutupi. Ketika orang bertanya apa yang membuatnya bertobat, begitulah menurut riwayat, ia pun menuturkan kisah ini.

Dulu ia seorang petugas keamanan yang kecanduan minuman keras. Ia membeli seorang budak perempuan yang mahal, dan dari perempuan itu lahir seorang anak perempuan. Di luar dugaannya sendiri, ia jatuh sayang setengah mati kepada bayi itu. Begitu anaknya mulai merangkak, cintanya makin menjadi. Si kecil pun lengket kepadanya. Ada satu kebiasaan aneh: setiap kali ia memegang minuman, anak itu merebut gelasnya dan menumpahkannya ke baju sang ayah.

Ketika berumur dua tahun, anak itu meninggal. Malik remuk. Kesedihan tidak membuatnya berubah, malah membuatnya makin tenggelam.

Pada malam pertengahan bulan Syakban, ia tertidur dalam keadaan mabuk tanpa menunaikan salat Isya. Dalam tidurnya ia bermimpi hari kiamat telah tiba. Sangkakala ditiup, kubur-kubur terbuka, dan ia termasuk di antara orang-orang yang dibangkitkan.

Tiba-tiba terdengar desis di belakangnya. Seekor ular raksasa berwarna hitam kebiruan mengejarnya dengan mulut menganga. Malik lari. Di jalan ia bertemu seorang tua berpakaian bersih dan berbau harum. Ia memohon pertolongan, tetapi orang tua itu menangis.

“Aku terlalu lemah, dan ular itu jauh lebih kuat dariku. Teruslah berlari. Mungkin Allah menyediakan sesuatu yang menyelamatkanmu.”

Ia berlari sampai ke tepi jurang dan melihat kengerian neraka di bawahnya. Dalam ketakutan ia nyaris terjun, lalu terdengar suara menyuruhnya kembali. Ular itu masih memburunya. Sekali lagi ia menemui orang tua itu, yang sambil menangis menunjuk sebuah gunung tempat titipan kaum muslim disimpan. Barangkali di sana ada titipan milik Malik yang bisa membelanya.

Gunung itu berkilau seperti perak, penuh jendela bertirai. Terdengar seruan agar tirai dibuka. Dari balik jendela muncul wajah anak-anak yang bercahaya seperti bulan. Ular itu sudah sangat dekat ketika seorang anak berseru. Di antara mereka, Malik melihat putrinya.

“Demi Allah, itu ayahku!”

Anak itu melesat kepadanya, menggenggam tangannya, dan mengulurkan tangan yang lain ke arah ular, yang langsung berbalik lari. Ia mendudukkan ayahnya, memegang janggutnya, lalu membacakan ayat: “Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”

Malik menangis dan bertanya tentang ular itu. Itulah amal burukmu yang kaubesarkan sendiri, jawab putrinya. Dan orang tua itu? Itulah amal baikmu, yang sudah kaubuat begitu lemah sehingga tak sanggup melawan amal burukmu.

Malik terbangun dengan gemetar. Ia menumpahkan minumannya, memecahkan wadah-wadahnya, dan bertobat. Itulah, katanya, sebab tobatku.

💖 Pesan Moral

  • Kebaikan kecil perlu dipelihara. Yang tidak pernah diberi makan akan lemah justru saat paling dibutuhkan.
  • Kebiasaan buruk tumbuh dari izin yang kita berikan setiap hari. Ular dalam mimpi itu dibesarkan oleh pemiliknya sendiri.
  • Kedukaan bisa menjadi pintu pulang bila kita mau mendengar apa yang dikatakannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari riwayat tobat Malik bin Dinar dalam Kitab at-Tawwabin karya Ibnu Qudamah; kisah ini berupa riwayat tentang mimpi, bukan catatan sejarah yang dapat dipastikan.