Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ibnu Sina dan Kitab Murah

3 menit baca

Ibnu Sina dalam ukiran potret Eropa. Wajah aslinya tidak diketahui. Gambar: Tidak diketahui · CC BY 4.0 · sumber

Di Bukhara pada akhir abad kesepuluh, seorang remaja bernama Husain bin Abdullah menghabiskan siang dan malamnya bersama buku. Kelak dunia mengenalnya sebagai Ibnu Sina, atau Avicenna di Eropa, dokter dan filsuf yang kitabnya dipakai berabad-abad. Sewaktu kecil, ia sudah menghafal Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun. Ayahnya mengirimnya kepada seorang penjual sayur yang pandai berhitung cara India. Pada usia remaja, gurunya sudah kehabisan bahan untuk mengajarinya, dan ia meneruskan belajar sendiri.

Ilmu demi ilmu ia kuasai. Logika, geometri, astronomi, kedokteran. Lalu ia sampai pada Metafisika karya Aristoteles, dan untuk pertama kalinya ia membentur tembok.

Ia membaca buku itu. Ia tidak mengerti. Ia membacanya lagi. Dalam otobiografi yang ia diktekan kepada muridnya, Ibnu Sina menyebutkan bahwa ia membacanya sampai empat puluh kali, hingga isinya hafal di luar kepala. Kata demi kata ada di ingatannya, tetapi maksudnya tetap gelap. Bagi seorang pemuda yang terbiasa melahap ilmu apa pun, ini menyakitkan. Ia hampir putus asa, dan berkesimpulan bahwa buku itu memang tidak mungkin dipahami.

Pada saat seperti itu, ia punya kebiasaan yang diingat oleh para penulis riwayatnya. Bila buntu pada suatu persoalan, ia pergi ke masjid dan salat, memohon supaya kesulitannya dibukakan.

Suatu sore ia berada di pasar buku Bukhara. Seorang penjaja mendekatinya, sambil membawa sejilid kitab kecil dan menawarkannya. Ibnu Sina menolak. Ia sudah menyimpulkan bahwa ilmu itu tak ada gunanya. Penjaja itu tidak menyerah. Katanya, kitab ini murah, hanya beberapa dirham, pemiliknya sedang butuh uang.

Barangkali karena kasihan, barangkali supaya orang itu berhenti mendesak, Ibnu Sina akhirnya membelinya. Kitab itu ternyata karya Abu Nasr al-Farabi tentang tujuan-tujuan Metafisika Aristoteles.

Ia pulang dan membacanya secepat mungkin. Tak lama kemudian, segala yang selama ini gelap menjadi terang. Isi buku yang telah ia hafal di luar kepala itu tiba-tiba terbuka maknanya. Empat puluh kali membaca ternyata tidak sia-sia: seluruh isinya sudah tersimpan di kepalanya, dan kini ia hanya butuh kunci untuk membukanya. Kunci itu ada pada kitab tipis seharga beberapa keping uang, yang tadi hampir ia tolak.

Ia begitu gembira. Keesokan harinya ia memberikan banyak sedekah kepada orang-orang miskin, sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

Kelak, Ibnu Sina menulis kitab al-Qanun fi at-Tibb dan asy-Syifa, dan ia wafat di Hamadan pada tahun 1037. Para sarjana masih berdebat tentang apa tepatnya yang tidak ia pahami dari Aristoteles dan kitab al-Farabi yang mana yang ia beli. Namun pengakuannya sendiri tetap tercatat: orang paling pandai di zamannya pernah mengaku tidak mengerti, dan pernah tertolong oleh seorang penjaja buku yang tidak mau pergi.

💖 Pesan Moral

  • Menghafal belum tentu memahami. Ibnu Sina sendiri mengakuinya tanpa malu.
  • Usaha yang tampak sia-sia bisa jadi sedang menyiapkan tanah. Empat puluh bacaan itu baru berbuah saat kuncinya ditemukan.
  • Carilah penjelas yang tepat. Satu buku tipis dari orang yang paham bisa menghemat bertahun-tahun.
  • Syukuri ilmu dengan berbagi. Hal pertama yang dilakukan Ibnu Sina setelah memahami adalah bersedekah.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Ibnu Sina, terutama otobiografi yang ia sampaikan kepada muridnya, al-Juzjani. Rincian harga kitab berbeda di antara sumber.