Dua Kuda di Medan Jaffa
Richard I dalam Pertempuran Jaffa menurut ilustrasi buku sejarah abad ke-19. Gambar: John Cassell · Public domain · sumber
Pada musim panas 1192, Perang Salib Ketiga sudah berlangsung bertahun-tahun, dan kedua pihak kelelahan. Sultan Saladin menguasai Yerusalem. Raja Richard I dari Inggris, yang dijuluki Si Hati Singa, sudah menyadari bahwa kota itu tak bisa direbut dan dipertahankan. Keduanya saling bertempur dengan sengit, dan anehnya keduanya saling menaruh hormat, walaupun tidak pernah bertatap muka.
Akhir Juli, Saladin mendadak menyerang kota pelabuhan Jaffa. Pertahanan kota itu nyaris jebol ketika kapal-kapal Richard tiba dari Acre. Sang raja melompat dari kapal dan mengarungi air menuju pantai, memimpin segelintir ksatria dan pasukannya, lalu merebut kembali kota itu.
Beberapa hari kemudian, pada awal Agustus, Saladin menyerang lagi. Jumlah pasukannya jauh lebih besar. Richard hanya punya sekitar lima puluh sampai delapan puluh ksatria, dan sangat sedikit kuda, karena ia datang lewat laut. Ia menyusun pasukannya dengan rapat. Barisan tombak ditancapkan ke tanah, dan di belakangnya para pemanah busur silang bergantian melepaskan tembakan. Gelombang demi gelombang pasukan berkuda datang dan membelok tanpa berhasil menembus.
Di tengah pertempuran itu, menurut sebuah catatan Eropa, terjadi peristiwa yang membuat kisah ini terus diceritakan. Richard terpaksa bertempur dengan berjalan kaki. Melihat itu, Al-Adil, adik Saladin, mengirimkan dua ekor kuda Arab terbaik kepadanya, lewat seorang utusan yang menembus medan perang, supaya raja sehebat itu tidak bertempur dengan berjalan kaki.
Dalam banyak penuturan kemudian, si pengirim berubah menjadi Saladin sendiri, dan ceritanya berkembang makin indah. Sejarawan modern meragukan peristiwa itu. Sumbernya adalah tawarikh Latin yang disebut Itinerarium, sementara Baha ad-Din, penulis Muslim yang berada di dekat Saladin selama perang itu, tidak mencatatnya, dan menurutnya Al-Adil tidak ikut dalam pertempuran hari itu. Mungkin sekali kisah itu tak pernah terjadi seperti yang diceritakan.
Yang dicatat Baha ad-Din adalah hal lain yang tak kalah mengherankan. Ia mendengar bahwa hari itu Raja Inggris, dengan tombak di tangan, berkuda menyusuri seluruh barisan pasukan Muslim dari kanan ke kiri, dan tidak seorang prajurit pun maju menyerangnya. Saladin marah dan meninggalkan medan perang.
Menjelang malam, Saladin memerintahkan pasukannya mundur. Jaffa bertahan. Tidak lama kemudian Richard jatuh sakit, dan kedua pemimpin mulai berunding. Pada September 1192, mereka menyepakati gencatan senjata tiga tahun. Yerusalem tetap di tangan Saladin, dan para peziarah Kristen diizinkan berkunjung. Keduanya tak pernah bertemu. Richard berlayar pulang, dan Saladin wafat beberapa bulan kemudian.
Barangkali kuda-kuda itu tak pernah dikirim. Tetapi orang dari kedua belah pihak memilih untuk mengenang perang yang kejam itu lewat cerita tentang hormat kepada lawan, dan hal itu sendiri sudah berkata sesuatu.
💖 Pesan Moral
- Lawan yang tangguh layak dihormati. Bersaing keras tidak berarti harus merendahkan.
- Bedakan kisah yang indah dari catatan yang pasti. Mengakui keraguan tidak mengurangi nilai pelajarannya.
- Manusia menginginkan contoh kemuliaan, bahkan di tengah perang, sampai mereka menciptakannya kalau perlu.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Pertempuran Jaffa 1192, termasuk Itinerarium Peregrinorum dan catatan Baha ad-Din. Kesejarahan kisah kuda itu diragukan oleh para sejarawan.