Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Pelayaran Sinbad

3 menit baca

Sinbad menuturkan pelayarannya kepada para tamu, ilustrasi Edmund Dulac. Gambar: Edmund Dulac · Public domain · sumber

Di Baghdad, pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, seorang kuli angkut bernama Hindbad memikul beban berat di hari yang panas sekali. Ia berhenti melepas lelah di depan sebuah rumah besar. Dari dalam tercium harum masakan dan terdengar musik. Ia mengeluh keras-keras: orang lain hidup bersenang-senang setiap hari, sedangkan ia bekerja keras dan keluarganya tetap kekurangan.

Seorang pelayan keluar dan memanggilnya masuk. Hindbad ketakutan. Ia dibawa ke hadapan seorang tua yang dihormati, pemilik rumah itu, yang bernama Sinbad si Pelaut.

“Aku mendengar keluhanmu,” kata Sinbad. “Aku tidak menyalahkanmu. Duduklah. Kamu mengira aku mendapatkan semua ini dengan mudah. Dengarkan dulu.”

Sinbad bercerita bahwa ia mewarisi harta dari orang tuanya dan menghabiskannya saat muda dalam foya-foya. Setelah sadar, ia menjual sisanya dan berlayar dari Basrah bersama para pedagang. Suatu hari kapal mereka berlabuh di sebuah pulau kecil yang hijau. Mereka turun dan menyalakan api untuk memasak, dan tiba-tiba pulau itu bergetar. Pulau itu ternyata punggung seekor ikan paus yang sedang tidur. Paus itu menyelam, dan Sinbad terapung di laut dengan berpegangan pada sebatang kayu, ditinggalkan kapalnya sendiri.

Ia terdampar dan selamat, dan pulang membawa keuntungan besar. Ternyata itu baru permulaan. Hidup enak segera membuatnya bosan, dan ia kembali berlayar. Dalam tujuh pelayaran, ia pernah ditinggal seorang diri di sebuah pulau, dan ia mengikatkan dirinya pada kaki seekor burung raksasa untuk meloloskan diri. Ia pernah terjebak di lembah berlian yang penuh ular. Ia pernah jatuh ke tangan raksasa, dan pernah kapalnya hancur dihantam batu besar.

Yang paling ia benci adalah pengalaman di pulau yang indah pada pelayaran kelima. Seorang kakek renta di tepi sungai memberi isyarat minta digendong menyeberang. Sinbad merasa kasihan dan mengangkatnya. Begitu sampai di seberang, kakek itu menjepit leher Sinbad dengan kedua kakinya dan tidak mau turun. Siang dan malam ia dipaksa berjalan seperti keledai. Akhirnya Sinbad memeras anggur ke dalam labu kering dan membiarkannya menjadi minuman keras. Kakek itu merebutnya, meminumnya sampai habis, dan terlepaslah jepitan kakinya. Para pelaut mengatakan kepada Sinbad bahwa ia baru saja lolos dari Kakek Laut, yang telah mencekik banyak orang.

Setiap kali Sinbad pulang kaya, setiap kali pula laut memanggilnya. Sesudah pelayaran ketujuh, ia akhirnya berhenti, dan kisah-kisahnya dituliskan atas perintah khalifah.

Tujuh hari berturut-turut Hindbad datang mendengarkan, dan setiap hari ia pulang membawa seratus keping emas. Pada akhir cerita, Sinbad bertanya apakah menurutnya ia berhak hidup tenang sekarang.

Hindbad mencium tangannya dan mengaku bahwa kesusahannya ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan semua itu. Sinbad pun memintanya berhenti menjadi kuli, dan sejak hari itu menjadikannya sahabat.

💖 Pesan Moral

  • Kita hanya melihat meja makan orang, tidak melihat laut yang ia seberangi. Sebelum iri, tanyakan apa yang sudah ia lewati.
  • Waspadai “kakek di tepi sungai”. Ada beban yang kita angkat karena kasihan, lalu tidak mau turun lagi.
  • Harta akan terasa pantas jika dibagikan. Sinbad menjawab keluhan si kuli dengan pintu terbuka, bukan dengan amarah.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Sinbad si Pelaut dalam Seribu Satu Malam, mengikuti versi yang tersebar lewat terjemahan Eropa.