Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ayaz dan Sepasang Sandal Lama

3 menit baca

Lukisan Persia karya Muhammad Ali yang menampilkan Mahmud dan Ayaz bersama Syah Abbas. Gambar: Muhammad Ali · Public domain · sumber

Sultan Mahmud dari Ghazni memiliki seorang kepercayaan bernama Ayaz. Ia dulu hanya seorang budak, tetapi kesetiaan dan kecerdasannya mengangkatnya sampai ke sisi sultan. Jabatan setinggi itu bagi seorang bekas budak tentu mengundang iri. Para pembesar istana mengamati gerak-geriknya, mencari satu saja cacat untuk mereka sampaikan.

Mereka akhirnya menemukannya. Ayaz punya sebuah kamar kecil yang selalu terkunci. Setiap hari ia masuk sendirian ke sana, mengunci pintu dari dalam, tinggal beberapa saat, lalu keluar. Tak seorang pun pernah melihat isinya.

Para pembesar itu menghadap sultan.

“Tuanku, kami khawatir. Ayaz menyimpan sesuatu di kamar itu. Mungkin emas yang diambil dari perbendaharaan, mungkin juga arak dan barang terlarang. Kalau tidak, mengapa harus dikunci?”

Sultan Mahmud percaya pada Ayaz. Namun ia tahu, tuduhan yang dibiarkan akan terus membusuk. Ia juga ingin para penuduh itu melihat dengan mata sendiri. Maka ia memberi perintah: malam ini, pergilah kalian ke kamar itu, bongkar pintunya, dan semua yang kalian temukan menjadi milik kalian.

Tengah malam, sekelompok pembesar datang membawa obor dan linggis. Mereka sudah membayangkan peti-peti emas, dan dalam hati sudah membagi-baginya. Pintu dibongkar, dan mereka menyerbu masuk.

Kamar itu nyaris kosong. Di dinding tergantung sepasang sandal kulit yang sudah usang dan sehelai pakaian kulit domba yang penuh tambalan.

Mereka tidak percaya. Pasti ada ruang rahasia. Mereka memukul-mukul dinding, menggali lantai, membongkar sudut demi sudut, sampai kamar itu penuh lubang. Tak ada apa-apa. Yang ada hanya sandal dan baju tua itu, dan rasa malu yang makin berat.

Mereka kembali menghadap sultan dengan wajah tertunduk, seperti orang yang telah memfitnah dan terbukti bersalah. Sultan pura-pura bertanya mana harta yang mereka temukan, lalu memanggil Ayaz untuk menjelaskan.

Maka tersingkaplah rahasia kamar itu. Sandal dan baju itu adalah pakaian yang ia kenakan ketika pertama kali datang sebagai budak. Setiap hari ia masuk dan mengenakannya sebentar, supaya tidak pernah lupa siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Jabatan, sutra, dan kehormatan semua itu pemberian. Sandal itulah asalnya.

Para penuduh memohon ampun. Sultan tidak mengampuni mereka sendiri. Kesalahan mereka terhadap Ayaz, katanya, maka Ayaz yang harus memutuskan. Ayaz boleh menghukum, boleh memaafkan, hanya saja jangan lama-lama, karena menunggu vonis pun sudah merupakan hukuman.

💖 Pesan Moral

  • Simpanlah “sandal lama” Anda. Mengingat masa-masa sulit menjaga kita tetap rendah hati ketika naik.
  • Kecurigaan menunjukkan isi hati penuduhnya. Mereka membayangkan emas dan arak karena itulah yang ada di benak mereka.
  • Jangan mudah menyimpulkan dari pintu yang tertutup. Orang berhak punya sudut hidup yang tidak dipamerkan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Mahmud dan Ayaz dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku kelima.