Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tiga Ikan di Telaga

3 menit baca

Dua nelayan dan tiga ikan, halaman dari naskah Kalilah wa Dimnah, sumber kisah yang digubah Rumi. Gambar: Tidak diketahui · CC0 · sumber

Jauh dari jalan yang biasa dilalui orang, ada sebuah telaga tersembunyi yang airnya mengalir dari sebatang sungai kecil. Di telaga itu hidup tiga ekor ikan besar. Yang pertama sangat cerdik. Yang kedua cukup pintar. Yang ketiga bodoh. Selama bertahun-tahun, tak ada bedanya, karena tak seorang pun pernah datang ke sana.

Suatu sore, dua nelayan lewat di tepi telaga. Mereka berhenti, melihat ke air, dan melihat bayangan tiga ikan yang gemuk.

“Ikan sebesar itu!” kata yang seorang. “Kita pulang dulu mengambil jaring. Besok kita kembali.”

Mereka pergi. Namun ketiga ikan itu sudah melihat mereka.

Ikan yang cerdik tidak menunggu. Ia tidak mengajak rapat dan tidak menghitung-hitung apakah nelayan itu benar-benar akan kembali. Telaga ini memang rumahnya sejak kecil, tetapi rumah itu sudah tidak aman. Ia berenang ke arah aliran sungai, melalui jalan yang sempit dan arus yang berat, dan dengan susah payah keluar ke sungai yang luas.

“Aku tidak akan lagi meminta pendapat dua kawanku,” pikirnya sambil berenang. “Mereka akan melemahkan niatku. Rasa sayang pada rumah lama hanya akan membuatku tinggal.”

Ikan kedua menyadari bahaya itu, tetapi terlambat bertindak. Ia menimbang-nimbang. Barangkali nelayan itu lupa. Barangkali masih ada waktu. Keesokan harinya, ketika ia melihat jaring direntangkan dan jalan keluar sudah tertutup, ia baru menyesal.

“Aku telah lengah,” katanya. “Kesempatan itu sudah lewat. Sekarang aku hanya punya satu jalan.”

Ia mengapungkan diri di permukaan dengan perut menghadap ke atas, membiarkan tubuhnya terbawa ke sana kemari seperti ikan mati. Nelayan datang dan mengangkatnya. “Sayang sekali, sudah mati,” kata mereka, lalu melemparkannya begitu saja ke arah aliran air. Begitu menyentuh arus, ia berenang secepat-cepatnya dan selamat.

Ikan ketiga tidak menyusun rencana apa pun. Ia hanya panik, melompat ke sana kemari, berputar mengelilingi telaga, mengeluh, dan menabrak jaring berulang kali. Nelayan menangkapnya, dan senja itu ia sudah berada di atas api.

Telaga itu kembali sunyi. Di sungai yang jauh, ikan yang cerdik tak pernah tahu apakah kawan-kawannya selamat. Ia hanya tahu bahwa keputusannya yang berat itu, yang diambil ketika semua masih tampak tenang, telah menyelamatkan hidupnya.

💖 Pesan Moral

  • Tanda bahaya paling berharga pada saat keadaan masih tampak aman. Pada saat jaring sudah terentang, pilihan tinggal sedikit.
  • Keputusan besar sering harus diambil sendirian. Rasa nyaman dan pendapat orang sekitar bisa menjadi tali yang mengikat.
  • Kalau sudah terlambat, tetap berpikir. Ikan kedua selamat karena ia tidak panik.
  • Kepanikan bukan usaha. Ikan ketiga sibuk bergerak, tetapi tidak ke mana-mana.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah tiga ikan dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku keempat, yang mengambilnya dari Kalilah wa Dimnah.