Tato Singa dari Qazwin
Singa yang ganas dalam miniatur Safawi akhir abad ke-17, jenis singa yang diidamkan lelaki Qazwin itu. Gambar: Mohammad Zaman · Public domain · sumber
Orang-orang Qazwin punya kebiasaan yang mereka banggakan. Mereka menato tubuh mereka dengan gambar-gambar gagah, pada punggung, bahu, atau lengan, dengan jarum dan tinta biru. Di kota itu, kata Rumi, tinggal seorang lelaki yang ingin terlihat seperti pahlawan, walaupun nyalinya tidak seberapa.
Suatu hari ia mendatangi seorang tukang cukur yang juga pandai menato.
“Buatkan aku tato yang paling hebat,” katanya sambil melepas baju. “Gambar seekor singa di bahuku. Singa yang galak. Aku lahir di bawah bintang Singa, dan keberanian adalah sifatku.”
Tukang tato itu mengangguk, mengambil jarumnya, mencelupkannya ke dalam tinta, dan mulai bekerja. Jarum pertama menembus kulit.
“Aduh!” si pemberani melonjak. “Bagian mana yang sedang kamu gambar?”
“Ekornya,” jawab si tukang tato.
“Ekor? Kalau begitu lewati saja. Tidak usah pakai ekor. Singa tanpa ekor juga tetap singa. Mulai dari bagian lain.”
Tukang tato itu menahan senyum, lalu memindahkan jarumnya.
“Aduuuh! Sekarang apa?”
“Telinganya.”
“Singanya tidak perlu telinga. Tinggalkan telinganya. Kerjakan yang lain.”
Jarum berpindah lagi. Lelaki itu mengerang lebih keras daripada sebelumnya.
“Bagian mana lagi itu?”
“Perutnya.”
“Buat apa singa punya perut? Singa yang gagah tidak butuh perut! Lewati!”
Tukang tato itu berdiri mematung cukup lama sambil memegang jarumnya. Setiap ia menusuk, lelaki itu menjerit. Setiap ia menyebut suatu bagian, lelaki itu menghapusnya dari gambar. Akhirnya ia melempar jarum dan tintanya ke tanah.
“Pernahkah ada orang melihat singa tanpa ekor, tanpa kepala, tanpa perut?” katanya. “Bahkan Tuhan pun tidak menciptakan singa seperti itu.”
Ia menyuruh pelanggannya mengenakan baju dan pulang. Lelaki itu keluar dengan bahu yang polos, kecuali beberapa titik biru yang tidak membentuk apa-apa. Mungkin itu tato paling jujur yang pernah dibuat di Qazwin.
Rumi meletakkan kisah ini di tengah nasihatnya tentang murid yang ingin mendapat gelar tanpa mau ditempa. Banyak orang ingin punya singa di bahunya, katanya. Sedikit yang tahan pada jarumnya. Siapa yang mau bercahaya harus rela digosok, siapa yang mau berbuah harus rela dipangkas.
💖 Pesan Moral
- Hasil yang gagah selalu minta dibayar dengan rasa sakit. Ingin mahir tanpa berlatih sama dengan ingin singa tanpa jarum.
- Waspadai kebiasaan “melewati bagian yang sulit”. Kalau semua bagian yang berat dibuang, tidak ada yang tersisa.
- Jangan mengaku berani sebelum ditusuk jarum pertama. Keberanian baru kelihatan setelah rasa sakit datang.
- Bagi yang berniat menato bahu: tanyakan dulu ambang sakit Anda.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah orang Qazwin dan tukang tato dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku pertama.