Rabi’ah dan Dua Potong Roti
Dua potong roti, seluruh hidangan yang semula disiapkan Rabi'ah bagi tamunya. Gambar: www.theedinburghblog.co.uk · CC BY 2.5 · sumber
Dua orang terpandang datang mengunjungi Rabi’ah al-Adawiyah di Basrah. Perjalanan mereka panjang, dan perut mereka kosong. Sambil berjalan, keduanya sudah saling berbisik. Mudah-mudahan ia menjamu kita. Makanan di rumah perempuan saleh seperti dia pasti berasal dari sumber yang halal.
Harapan itu seperti terkabul. Begitu mereka duduk, Rabi’ah menggelar sehelai kain dan meletakkan dua potong roti di atasnya. Hanya dua potong, tetapi kedua tamu itu sudah cukup senang. Tangan mereka nyaris terulur ketika terdengar suara dari pintu. Seorang pengemis meminta makanan.
Rabi’ah bangkit, mengambil kedua potong roti itu, dan memberikannya kepada si pengemis.
Kedua tamu saling pandang. Perut mereka berbunyi, hati mereka kesal, tetapi sopan santun menahan lidah mereka. Mereka duduk diam di depan kain kosong.
Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan masuk membawa roti hangat.
“Majikan saya mengirimkan ini,” katanya.
Rabi’ah menghitung roti itu satu per satu. Delapan belas.
“Mungkin bukan ini yang ia kirimkan untukku,” katanya.
Pelayan itu berkali-kali meyakinkannya, tetapi percuma. Rabi’ah menyuruhnya membawa pulang semua roti itu. Kedua tamu makin tercengang. Roti sudah di depan mata, dan mereka lapar, dan tuan rumah malah menolaknya.
Pelayan itu pulang dengan wajah merah. Sebenarnya ada yang ia sembunyikan: dalam perjalanan tadi ia menyisihkan dua potong untuk dirinya sendiri. Ia menceritakan kejadian itu kepada majikannya, roti yang dua potong dikembalikan ke tumpukan, dan ia datang lagi.
Rabi’ah menghitung ulang. Dua puluh.
“Nah, inilah yang dikirim majikanmu,” katanya sambil menerima roti itu, lalu meletakkannya di depan kedua tamu.
Mereka makan sampai kenyang, sambil terus keheranan. Setelah selesai, mereka tak tahan lagi bertanya. Mengapa roti yang pertama diberikan kepada pengemis? Mengapa delapan belas ditolak dan dua puluh diterima?
Rabi’ah menjelaskan. Sejak mereka datang, ia tahu mereka lapar, dan ia merasa dua potong roti tidak pantas dihidangkan bagi dua tamu seperti mereka. Maka ketika pengemis itu datang, ia memberikan roti itu dan berkata kepada Tuhan dalam hati: Engkau telah berjanji membalas sepuluh kali lipat, dan aku percaya. Aku memberikan dua potong demi Engkau, maka berilah dua puluh.
Ketika yang datang hanya delapan belas, ia tahu ada yang keliru. Janji itu tidak mungkin kurang hitungannya. Pasti ada yang berkhianat di tengah jalan, atau roti itu bukan untuknya.
💖 Pesan Moral
- Memberi dari yang sedikit menuntut keyakinan yang besar. Rabi’ah melepas satu-satunya makanan di rumahnya tanpa tahu kapan penggantinya datang.
- Jangan cepat menilai perbuatan orang. Yang tampak kikir atau aneh di mata tamu ternyata punya alasan yang tak terlihat.
- Kejujuran kecil tetap terhitung. Dua potong roti yang disisihkan diam-diam ternyata tidak luput dari perhitungan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Rabi’ah al-Adawiyah dalam Tadhkirat al-Awliya karya Fariduddin Attar.