Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Gajah yang Merawat Ibunya

3 menit baca

Gambar gajah berhias dari era Mughal, mengingatkan pada gajah kerajaan yang diinginkan Raja Benares. Gambar: Ismoon ( talk ) 16:42, 13 December 2018 (UTC) · CC BY-SA 4.0 · sumber

Seekor gajah putih memimpin delapan puluh ribu gajah di kawasan Himalaya. Ia gagah dan disegani, tetapi hatinya selalu tertuju ke satu tempat: ibunya yang buta.

Setiap kali menemukan buah hutan yang manis, ia menitipkannya kepada gajah-gajah lain untuk disampaikan kepada ibunya. Suatu hari ia bertanya, dan barulah ia tahu bahwa buah itu tak pernah sampai. Mereka memakannya di jalan.

“Kalau begitu, aku sendiri yang akan merawat ibu,” katanya dalam hati.

Malam itu, tanpa memberi tahu siapa pun, ia meninggalkan kawanannya. Ia membawa ibunya ke Gunung Candorana, ke sebuah gua di dekat telaga, dan di sana ia mengurusnya sendiri, memetik makanan untuknya, dan membawakannya air.

Pada suatu hari terdengar suara orang meratap di dalam hutan. Seorang pencari hasil hutan dari Benares tersesat sudah tujuh hari. Gajah itu menghampirinya. Melihat binatang sebesar itu, orang tersebut lari ketakutan.

“Jangan takut, manusia. Aku akan mengantarmu ke jalan.”

Ia mengangkat orang itu ke punggungnya dan membawanya keluar dari hutan. Orang itu berterima kasih, tetapi sepanjang jalan pikirannya sibuk. Diam-diam ia menandai pohon dan bukit yang dilewati. Di Benares, gajah kerajaan baru saja mati, dan raja mengumumkan bahwa siapa pun yang mengetahui gajah yang layak harus melapor. Orang itu menghadap dan menawarkan diri menunjukkan jalan.

Pasukan pawang tiba ketika gajah putih itu sedang makan di telaga. Ia melihat mereka, dan melihat siapa yang berjalan di depan. Ia sebenarnya sanggup menghancurkan seribu gajah dan seluruh pasukan itu. Namun ia menimbang: kalau ia mengamuk, kebajikannya rusak. Ia menundukkan kepala dan tidak bergerak, sekalipun harus ditusuk pisau.

Pawang itu memegang belalainya dan menuntunnya selama tujuh hari ke Benares.

Di gua dekat telaga, ibunya menunggu. Anaknya tak kunjung datang. Ia tahu apa yang mungkin terjadi, lalu meratap sambil menyebut pohon-pohon yang akan terus tumbuh sementara anaknya entah di mana.

Kota Benares dihias untuk menyambut gajah baru. Kandangnya penuh karangan bunga, dan raja sendiri menghidangkan makanan terbaik. Gajah itu tidak menyentuhnya.

“Makanlah sesuap, gajah agung. Banyak tugas yang akan kau jalankan untuk rajamu.”

“Tanpa ibuku, aku tidak akan makan. Di kaki Gunung Candorana, seorang ibu yang buta sedang menjejakkan kakinya ke akar pohon, mencari anaknya.”

Raja bertanya siapa yang ia maksud, dan gajah itu menjawab. Raja terdiam lama. Ia telah melihat upeti dan pasukan dari banyak negeri, tetapi belum pernah melihat kesetiaan seperti ini.

“Lepaskan gajah ini. Biarkan ia pulang kepada ibunya.”

Gajah itu berjalan kembali ke hutan. Sesampai di telaga, ia mengisi belalainya dengan air yang sejuk, lalu masuk ke gua dan menyiramkannya ke tubuh ibunya. Sang ibu tersentak.

“Hujan apa ini, yang datang bukan pada musimnya? Anakku sudah pergi, dan tak ada lagi yang menjagaku.”

“Bangunlah, Ibu. Anakmu pulang. Raja Kasi yang mulia mengizinkan aku kembali.”

Sang ibu mendoakan panjang umur bagi raja yang membebaskan anaknya. Raja kemudian mendirikan permukiman di dekat telaga itu dan terus membantu keduanya.

💖 Pesan Moral

  • Merawat orang tua sebaiknya tidak dititipkan terus-menerus. Ada kasih yang hanya sampai bila kita sendiri yang mengantarkannya.
  • Kekuatan yang ditahan lebih sulit daripada kekuatan yang dilepaskan. Gajah itu memilih tunduk agar tidak menumpahkan darah.
  • Kemewahan tidak menggantikan rumah. Hidangan raja terasa hambar bagi orang yang hatinya tertinggal.
  • Hati penguasa bisa disentuh. Raja yang semula ingin memiliki justru menjadi pelindung setelah mendengar alasannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Matiposaka Jataka (Jataka no. 455), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.