Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Danau Si Losung dan Si Pinggan

3 menit baca

Lesung kayu dari Tanah Karo, mengingatkan pada nama Danau Si Losung. Gambar: IHLubis · CC BY-SA 4.0 · sumber

Dua bersaudara itu tidak mewarisi sawah atau emas. Ketika orang tua mereka meninggal, Datu Dalu dan adiknya, Sangmaima, hanya mendapat ilmu silat, ilmu pengobatan, dan sebatang tombak pusaka. Tombak itu diberikan kepada Datu Dalu sebagai anak sulung, tetapi Sangmaima boleh meminjamnya kapan saja.

Pagi itu Sangmaima meminjamnya untuk berburu babi hutan.

“Jaga baik-baik,” pesan Datu Dalu. “Hanya itu peninggalan ayah kita.”

Di tengah hutan, Sangmaima melihat seekor babi dan melempar tombaknya. Tepat mengenai perut. Tetapi babi itu tidak roboh. Ia melarikan diri ke dalam semak dengan tombak masih tertancap. Sangmaima mengejarnya sampai napasnya habis, dan yang ia temukan hanya batang tombak yang patah. Mata tombaknya terbawa lari.

Datu Dalu mengamuk begitu melihat batang kosong itu.

“Jangan pulang sebelum mata tombak itu kautemukan!”

Berhari-hari Sangmaima menyusuri hutan. Suatu sore ia tiba di mulut sebuah gua dan mendengar rintihan dari dalam. Di sana terbaring seorang gadis dengan luka di perutnya. Sangmaima tidak bertanya apa-apa. Ia mengeluarkan ramuan dan merawat luka itu dengan ilmu warisan orang tuanya.

Setelah keadaannya membaik, gadis itu berterus terang. Dialah babi yang ditombak Sangmaima tempo hari. Ia lalu mengulurkan sesuatu: mata tombak pusaka.

Sangmaima pulang dengan lega dan menyerahkannya kepada kakaknya. Seharusnya cerita ini selesai di sini. Tetapi kemarahan Datu Dalu tidak ikut pulih bersama tombaknya. Ia tidak lagi berbicara hangat dengan adiknya. Rasa kesal itu mengendap bertahun-tahun.

Ketika Datu Dalu menikah, pesta besar digelar. Semua orang diundang, kecuali satu orang. Sangmaima mendengar bunyi gondang dari kejauhan dan tahu bahwa ia sengaja dilupakan.

Luka itu tidak ada obatnya, sekalipun ia ahli pengobatan. Sangmaima datang menemui kakaknya dan menantangnya beradu kesaktian.

Kedua saudara itu bertarung dengan segala ilmu warisan orang tua mereka. Tidak ada yang mau mundur. Datu Dalu mengangkat sebuah lesung besar dan melemparkannya ke arah adiknya. Sangmaima mengelak, dan lesung itu terbang jauh, jatuh menghantam tanah. Sangmaima membalas dengan melempar pinggan. Datu Dalu pun mengelak, dan pinggan itu melayang lalu jatuh di tempat lain.

Bumi di kedua tempat itu amblas dan digenangi air. Tempat jatuhnya lesung menjadi Danau Si Losung, dan tempat jatuhnya pinggan menjadi Danau Si Pinggan. Dua danau itu masih ada sampai sekarang, masing-masing di tempatnya, seperti dua saudara yang tak pernah berdamai.

💖 Pesan Moral

  • Yang dikembalikan belum tentu dimaafkan. Tombak kembali utuh, tetapi hubungan dua saudara itu tidak pernah diperbaiki.
  • Dendam kecil yang dipelihara bisa lebih mahal dari kesalahan awalnya. Sebuah tombak hilang sebentar, dan yang hilang selamanya adalah seorang adik.
  • Pengucilan juga melukai. Kadang yang paling menyakitkan bagi seseorang adalah tidak diundang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Batak, Sumatra Utara.