Lebai Malang
Sampan di tepi sungai, foto lama dari arsip Belanda. Dengan perahu seperti inilah Pak Lebai bolak-balik antara hulu dan hilir. Gambar: Nationaal Archief · CC0 · sumber
Di sebuah kampung di tepi sungai, tinggallah seorang lebai yang baik hati. Orang kampung menyukainya, dan setiap kali ada hajatan, namanya selalu ada dalam daftar undangan. Sebagai lebai, ia biasa menerima bagian daging yang istimewa.
Suatu ketika, datanglah dua undangan pada hari yang sama. Satu dari keluarga di hulu sungai, satu lagi dari keluarga di hilir. Kedua tempat itu berjauhan, dan tak mungkin dihadiri sekaligus.
Pak Lebai duduk di beranda dan mulai berhitung.
Para tetangga memberi kabar: keluarga di hulu menyembelih dua ekor kerbau, dan untuk Pak Lebai sudah disediakan dua kepala kerbau. Keluarga di hilir hanya menyembelih seekor, dan bagiannya satu kepala. Dua lebih banyak daripada satu. Sederhana.
Akan tetapi, masakan keluarga di hulu tidak terkenal enak, dan ia tidak terlalu dekat dengan mereka. Dengan keluarga di hilir ia lebih akrab, dan masakannya sedap. Satu kepala yang lezat atau dua kepala yang hambar?
Pak Lebai berhitung dari pagi sampai siang, dan dari siang sampai sore. Ia mengambil keputusan, lalu membatalkannya. Malam tiba, dan ia berbaring dengan pikiran yang masih maju mundur antara hulu dan hilir.
Pada hari kenduri, ia belum juga memutuskan. Ia membungkus sedikit nasi untuk bekal, memanggil anjingnya, dan naik ke sampan. Di tengah sungai, ia berhenti mengayuh. Air mengalir pelan ke hilir. Kepala sampan terombang-ambing ke sana kemari.
“Biarlah kuikuti kata hatiku,” katanya akhirnya, dan hatinya yang mudah tergoda menunjuk ke arah dua kepala kerbau. Ia mengayuh ke hulu.
Mengayuh ke hulu melawan arus itu berat. Keringatnya bercucuran. Ketika hampir sampai, ia bertemu dua orang yang berkayuh ke arah sebaliknya.
“Hendak ke mana, Pak Lebai?”
“Ke kenduri di hulu.”
“Ah, tak usahlah. Kami baru dari sana. Kerbaunya kurus-kurus, tak ada dagingnya. Lebih baik ikut kami ke hilir.”
Pak Lebai membayangkan dua kepala kerbau kurus, dan hatinya kembali berubah. Ia memutar sampan dan mengayuh sekuat tenaga mengikuti arus. Ia melewati kampungnya sendiri dan terus berkayuh sampai lengannya pegal.
Ketika ia tiba di hilir, tamu-tamu sudah pulang. Periuk sudah dicuci. Tikar sudah digulung. Kenduri telah usai, dan sepotong kepala kerbau pun tak ada lagi.
Dengan perut keroncongan, Pak Lebai duduk di sampan. Masih ada nasi bungkusnya. Masih ada sungai. Ia mengeluarkan kail dan memutuskan mencari lauk sendiri.
Tak lama kemudian, tali pancingnya menegang. Tarikannya kuat sekali. Pasti ikan besar! Ia menarik, tetapi ikan itu melawan. Ia menarik lagi, dan tak berhasil. Setelah lama berkutat, ia meletakkan bungkusan nasinya di sampan dan terjun ke air untuk menangkap ikan itu dengan tangan.
Ketika tangannya hampir menyentuhnya, ikan itu lepas dari kail dan berenang pergi.
Pak Lebai memanjat kembali ke sampan dengan pakaian basah kuyup, lalu mencari bungkusan nasinya. Bungkusan itu sudah terbuka. Di sampingnya, anjingnya sedang menjilati bibir dengan wajah penuh rasa syukur.
Malam itu Pak Lebai pulang tanpa kepala kerbau, tanpa ikan, dan tanpa nasi. Sejak hari itu, orang-orang kampung punya sebutan baru untuknya: Lebai Malang.
💖 Pesan Moral
- Tidak memilih juga sebuah pilihan, dan biasanya pilihan yang paling buruk.
- Keinginan mendapat yang terbaik bisa membuat kita kehilangan yang baik. Satu kepala kerbau di hilir sudah pasti, tetapi ia memilih menghitung.
- Jangan mudah berubah haluan karena omongan orang di tengah jalan.
- Peringatan praktis: jangan tinggalkan nasi di dekat anjing.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Melayu dan Minangkabau tentang Lebai Malang, salah satu versi. Dalam versi Cherita Jenaka (Winstedt dan Sturrock, 1908), undangannya berjumlah tiga dan lempengnya dibawa lari anjing.