Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Gajah dan Para Tikus

3 menit baca

Dua ekor gajah dalam lukisan India abad ke-19. Di balik kebesaran seperti inilah kawanan gajah dalam cerita melangkah tanpa melihat ke bawah. Gambar: Mazhar Ali Khan (possibly) (artist) · Public domain · sumber

Sebuah kota tua telah lama ditinggalkan. Rumah-rumah runtuh, kuil-kuil berlumut, dan penduduknya sudah pergi entah ke mana. Namun kota itu tidak benar-benar kosong. Beribu-ribu tikus tinggal di celah-celah lantainya, turun-temurun, dari kakek ke cucu dan cicit. Mereka mengadakan pesta, perjamuan pernikahan, bahkan pertunjukan sandiwara buatan sendiri. Mereka adalah warga yang berbahagia di kota yang dilupakan orang.

Suatu hari, seekor raja gajah dan ribuan kawanannya berjalan melintasi kota itu. Mereka mendengar kabar ada danau di seberang sana dan hendak minum. Gajah-gajah itu tidak berniat jahat. Mereka bahkan tidak melihat apa yang ada di bawah kaki mereka. Akan tetapi, setiap langkah mereka meremukkan sarang dan menewaskan banyak tikus.

Para tikus yang selamat berkumpul sambil gemetar.

“Kalau mereka lewat lagi, tak akan ada lagi di antara kita yang tersisa,” kata seekor tikus tua. “Kita harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang bisa kita perbuat terhadap gajah?”

“Kita tidak bisa melawan. Tapi kita bisa bicara.”

Beberapa tikus memberanikan diri berjalan ke danau. Di tepinya, di bawah bayangan tubuh raksasa sang raja gajah, mereka membungkuk.

“Baginda, tak jauh dari sini ada negeri kami, warisan nenek moyang. Ketika Baginda dan rombongan lewat, kami mati beribu-ribu. Kalau Baginda lewat lagi, kami akan punah. Bila Baginda berbelas kasih, sudilah mengambil jalan lain. Kelak, makhluk sekecil kami pun mungkin ada gunanya.”

Sang raja gajah merendahkan kepalanya dan mendengarkan. Ia tidak tertawa mendengar kalimat terakhir itu. Ia menimbang-nimbang, lalu mengangguk. “Kata-kata kalian masuk akal. Kami akan mengambil jalan lain.”

Waktu berlalu. Suatu ketika, seorang raja manusia memerintahkan para pemburunya menangkap gajah. Mereka membuat perangkap air di danau, dan raja gajah beserta kawanannya terjebak. Tiga hari kemudian, gajah-gajah itu ditarik keluar dengan tali-tali besar, lalu diikat pada pohon-pohon kokoh di hutan.

Setelah para pemburu pergi, sang raja gajah mencoba meronta. Tali itu tak mau putus. Ia memandang kawanannya yang terikat dan berpikir, siapa yang bisa menolong? Lalu ia teringat kalimat lama yang pernah ia dengar di tepi danau.

Ada seekor gajah betina dari rombongannya yang tidak ikut masuk perangkap. Sang raja mengutusnya ke kota tua untuk menyampaikan kabar.

Begitu mendengar berita itu, para tikus tidak berpikir dua kali. Mereka berangkat beribu-ribu, berlari melintasi hutan untuk membalas budi. Sesampainya di sana, mereka menggerogoti tali-tali yang terikat di kaki gajah. Sebagian memanjat pohon dan memutus simpul di dahan. Tali demi tali putus, sampai gajah terakhir bebas.

Sang raja gajah merendahkan kepalanya sekali lagi kepada makhluk-makhluk kecil itu, dan kawanannya pulang dengan selamat.

💖 Pesan Moral

  • Jangan meremehkan siapa pun karena ukurannya. Kita tidak pernah tahu dari siapa pertolongan akan datang.
  • Mendengarkan yang lemah adalah tanda kekuatan. Raja gajah bisa saja mengabaikan para tikus tanpa rugi apa pun pada hari itu, tetapi ia memilih mendengar.
  • Yang lemah pun boleh bersuara. Para tikus selamat karena berani menyampaikan keluhan dengan sopan kepada pihak yang jauh lebih kuat.
  • Kebaikan yang ditanam diam-diam akan berbuah pada waktunya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Tikus-Tikus yang Membebaskan Gajah” dalam Panchatantra, Buku II (Memperoleh Sahabat).