Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sumur di Padang Pasir

3 menit baca

Gurun pasir di India barat laut, gambaran medan yang harus dilintasi kafilah dalam kisah ini. Gambar: Vyacheslav Argenberg · CC BY 4.0 · sumber

Pasir di gurun itu begitu halus sampai genggaman tangan pun tak bisa menahannya, dan begitu panas di siang hari sampai tak seorang pun sanggup menginjaknya. Lebarnya enam puluh yojana. Kafilah hanya bisa melintas di malam hari, berpedoman pada bintang, dipandu seorang penunjuk jalan seperti nakhoda di tengah laut.

Seorang saudagar muda memimpin lima ratus gerobak menyeberangi gurun itu. Siang hari mereka berkemah di bawah tenda, memasak, dan tidur. Begitu matahari tenggelam, perjalanan dimulai lagi.

Ketika jarak yang tersisa tinggal beberapa kilometer, saudagar itu yakin malam ini mereka akan keluar dari gurun. Selesai makan, ia menyuruh membuang kayu bakar dan air yang tersisa supaya gerobak lebih ringan, lalu mereka berangkat dengan riang.

Penunjuk jalan itu sudah lama tak tidur. Ia duduk di gerobak terdepan, dan matanya terpejam. Sepanjang sisa malam, lembu-lembu berputar arah tanpa ada yang tahu. Ketika fajar datang, mereka melihat bekas perapian dan tanda perkemahan yang sudah mereka kenal. Mereka kembali ke tempat semula.

Tak ada lagi kayu. Tak ada lagi air. Orang-orang menjatuhkan diri di bawah gerobak, menyerah pada nasib.

Saudagar muda itu tidak ikut berbaring. Ia tahu, kalau dirinya patah semangat, habislah semua orang. Selagi hari masih sejuk, ia berjalan menyusuri perkemahan, memeriksa tanah, sampai matanya menangkap serumpun rumput kusa.

“Rumput ini tak mungkin hidup tanpa air di bawahnya,” pikirnya.

Ia menyuruh orang-orangnya menggali di situ. Sedalam enam puluh hasta mereka menggali, sampai cangkul mengenai batu besar. Air tak ada. Mereka yang tadi mulai berharap kini melemparkan alat dan duduk lemas.

Saudagar itu turun ke dasar lubang. Ia membungkuk dan menempelkan telinganya ke batu, lalu menahan napas. Dari bawah terdengar sesuatu yang samar: bunyi air mengalir.

Ia naik dan memanggil seorang pelayan muda.

“Kalau kita berhenti sekarang, kita semua mati. Ambil palu besi, turunlah, dan pukul batu itu.”

Pemuda itu turun. Ketika yang lain sudah kehilangan harapan, ia masih mengayunkan palunya. Batu itu retak, lalu pecah terbelah, dan air menyembur naik setinggi pohon palem.

Semua orang minum dan mandi. Mereka memotong as roda dan kuk cadangan untuk kayu bakar, memasak nasi, dan memberi makan lembu. Saat matahari terbenam, saudagar itu menancapkan bendera di samping sumur agar para pelintas lain bisa menemukannya. Lalu kafilah berangkat lagi, sampai ke tujuan, dan menjual barang dengan harga berlipat. Tak seorang pun tertinggal.

💖 Pesan Moral

  • Pemimpin tidak boleh menyerah di depan orang-orangnya. Ketenangan satu orang bisa menahan keputusasaan banyak orang.
  • Dengarkan sekali lagi sebelum berhenti. Pekerjaan yang tampak gagal kadang hanya tinggal selapis batu lagi dari hasilnya.
  • Jangan membuang bekal karena merasa hampir sampai. Kelengahan paling mahal sering terjadi di ujung perjalanan.
  • Tinggalkan tanda untuk orang berikutnya. Bendera di tepi sumur membuat keselamatan satu kafilah berguna bagi kafilah lain.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Vannupatha Jataka (Jataka no. 2), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.