Sima Guang Memecahkan Gentong
Kisah Sima Guang pada piring porselen Jepang, koleksi Metropolitan Museum of Art. Gambar: Tidak diketahui · CC0 · sumber
Sekelompok anak bermain di halaman sebuah rumah di Tiongkok, awal abad ke-11. Di halaman itu berdiri gentong besar penuh air, lebih tinggi dari tubuh mereka. Salah seorang anak memanjat ke bibir gentong. Kakinya tergelincir, dan ia tercebur ke dalam. Air menutupi kepalanya.
Sejarah Dinasti Song mencatat apa yang terjadi berikutnya dalam beberapa kalimat saja. Anak-anak lain panik dan lari meninggalkan tempat itu. Hanya satu yang tetap di sana, seorang bocah berusia sekitar tujuh tahun bernama Sima Guang.
Ia tidak berusaha menarik temannya dari atas, sesuatu yang mustahil bagi anak sekecil itu. Ia juga tidak berlari mencari orang dewasa, karena waktu yang dimiliki temannya tidak banyak. Ia memungut sebuah batu dan menghantamkannya ke dinding gentong sampai pecah. Air menyembur keluar, dan anak itu selamat.
Tindakan itu sederhana, dan justru di situlah kecerdasannya. Semua orang memikirkan cara mengeluarkan anak dari air. Sima Guang memikirkan cara mengeluarkan air dari anak. Kisah ini kemudian beredar di ibu kota dan Luoyang, sampai orang melukisnya menjadi gambar. Berabad-abad kemudian, perajin keramik Jepang pun melukiskannya di atas piring.
Anak itu bukan sekadar cepat berpikir. Catatan yang sama menyebut bahwa pada usia itu ia sudah bersikap sungguh-sungguh seperti orang dewasa. Ketika ia mendengar orang menguraikan kitab sejarah Zuo Zhuan, ia sangat menyukainya, lalu pulang dan menceritakannya kembali kepada keluarganya sampai mereka memahami isinya. Sejak saat itu ia hampir tak pernah melepaskan buku.
Sima Guang lahir pada tahun 1019 dan menjadi pejabat tinggi Dinasti Song. Ia dikenal hidup sederhana dan keras memegang pendapat, sampai rela mundur dari istana ketika menentang program pembaruan Wang Anshi.
Pada tahun-tahun jauh dari kekuasaan itulah ia menyelesaikan karya hidupnya. Bersama para pembantunya, ia menyusun Zizhi Tongjian, sejarah Tiongkok berjilid-jilid yang mencakup lebih dari 1.300 tahun peristiwa. Judulnya kira-kira berarti “cermin menyeluruh untuk membantu pemerintahan”. Karya itu rampung pada tahun 1084 setelah sekitar sembilan belas tahun kerja, dan sampai sekarang menjadi salah satu sumber utama sejarah Tiongkok.
Ia wafat pada tahun 1086, tak lama setelah kembali memimpin pemerintahan. Bagi anak-anak sekolah di Tiongkok, ia bukan pertama-tama dikenang sebagai sejarawan besar, melainkan sebagai bocah yang memungut batu ketika semua orang lain berlari.
💖 Pesan Moral
- Dalam krisis, tenang lebih berguna daripada kuat. Sima Guang kalah tenaga dari orang dewasa, tetapi ia tetap berpikir ketika yang lain panik.
- Ubah pertanyaannya bila jawabannya buntu. Kalau anak tidak bisa diangkat dari air, keluarkan airnya.
- Keselamatan orang lebih berharga daripada barang. Gentong itu mahal, tetapi ia memecahkannya tanpa ragu.
- Kebiasaan kecil masa kanak-kanak bisa bertahan seumur hidup. Kecintaannya pada bacaan bermuara pada sebuah karya besar.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Sima Guang, terutama biografinya dalam Song Shi (Sejarah Dinasti Song).