Omusubi Kororin
Omusubi atau onigiri, kepalan nasi yang menggelinding dalam cerita ini. Gambar: Ocdp · CC0 · sumber
Tengah hari di lereng bukit, seorang kakek pencari kayu duduk di atas batang pohon yang tumbang dan membuka bungkus daun bambu berisi tiga kepal nasi buatan istrinya. Baru saja ia mengangkat kepalan pertama, nasi itu terlepas dari jarinya, menggelinding di tanah, lalu melompat masuk ke sebuah lubang kecil di bawah akar pohon.
Kakek itu berjongkok, kecewa. Lalu ia mendengar sesuatu dari dalam lubang, suara kecil bernyanyi riang.
“Omusubi kororin, sutten ton!”
Bunyinya kira-kira: nasi kepal menggelinding, gelundang-gelundung. Kakek itu tertawa sendirian di tengah hutan. Lagu itu menyenangkan sekali. Ia melihat nasi kedua di tangannya, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lubang. Lagu itu terdengar lagi, lebih ramai. Maka nasi ketiga pun ia gelindingkan. Ia menahan lapar dan merasa puas.
Karena ingin tahu, ia mendekatkan wajah ke lubang itu. Kakinya tergelincir, dan tubuhnya meluncur masuk, berguling-guling seperti nasi kepalnya sendiri, sampai ia mendarat di sebuah ruangan terang. Di sana berkumpul ratusan tikus berbaju rapi, sedang menumbuk kue beras sambil bernyanyi.
“Selamat datang, Kakek baik hati! Nasimu lezat sekali. Hari ini kami berpesta karena pemberianmu.”
Mereka menjamu kakek itu dengan kue beras hangat, menari untuknya, dan saat ia pamit, tikus-tikus itu memberinya sebuah kotak kecil sebagai oleh-oleh. Sesampainya di rumah, ia dan istrinya membukanya. Di dalamnya ada kepingan emas, cukup untuk hidup tanpa kekurangan.
Tetangga mereka, seorang kakek yang tamak, datang begitu mendengar kabar itu. Keesokan harinya ia naik bukit membawa setumpuk nasi kepal, mencari lubang yang sama, dan menjejalkan semuanya sekaligus. Lalu ia melompat masuk sendiri, tanpa menunggu diundang.
Para tikus menyambutnya dengan ramah. Namun si tetangga tidak berminat pada kue atau tarian. Ia hanya memikirkan emas, dan terpikir olehnya cara yang lebih cepat. Kalau tikus-tikus ini lari ketakutan, semua harta mereka bisa ia ambil sekaligus. Maka ia menarik napas dalam-dalam dan mengeong sekeras-kerasnya, menirukan kucing.
“Meooong!”
Dalam sekejap ruangan terang itu menjadi gelap. Para tikus berhamburan, lampu-lampu padam, dan semua lorong menutup. Si tetangga meraba-raba dalam gelap, tidak menemukan emas maupun jalan keluar. Konon ia lama sekali mencakar-cakar tanah seperti tikus sebelum akhirnya bisa keluar, dengan tangan kosong dan baju penuh lumpur.
💖 Pesan Moral
- Kegembiraan sering datang dari memberi tanpa hitungan. Kakek pertama melepas makan siangnya hanya demi mendengar sebuah lagu.
- Niat lebih terbaca daripada perbuatan. Dua kakek sama-sama menjatuhkan nasi, tetapi hanya satu yang benar-benar memberi.
- Keserakahan merusak pesta yang sudah terbuka untuknya. Si tetangga sebenarnya diterima dengan baik, tetapi ia ingin semuanya sekaligus.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi Omusubi Kororin, cerita rakyat Jepang yang dikenal di banyak daerah.