Monyet dan Kepiting
Akhir pertarungan monyet dan kepiting, dari ilustrasi buku Tales of Old Japan. Gambar: Ōdake · Public domain · sumber
Seekor kepiting sedang berjalan menyamping di tepi sungai sambil membawa sekepal nasi. Di jalan ia bertemu monyet yang menggenggam biji kesemek. Monyet itu menatap nasi si kepiting dengan mata berbinar, lalu tersenyum manis.
“Kawan, mari bertukar. Nasi akan habis sekali telan. Biji ini kalau ditanam bisa menghasilkan buah seumur hidup.”
Kepiting berpikir sejenak dan setuju. Monyet melahap nasi itu sambil tertawa dalam hati, sementara kepiting pulang dan menanam biji kesemek di halaman rumahnya.
Setiap hari ia menyiram tanah itu sambil bernyanyi, “Cepatlah bertunas, kalau tidak kucapit kau!” Biji itu bertunas. “Cepatlah tumbuh, kalau tidak kucapit kau!” Tunas itu meninggi menjadi pohon. Tahun demi tahun ia merawatnya, sampai dahan-dahannya berat oleh kesemek jingga yang matang.
Masalahnya, kepiting tidak bisa memanjat. Ia berdiri di bawah pohon, memandangi buah yang tak terjangkau. Saat itulah monyet muncul.
“Wah, pohonmu bagus sekali. Biar kubantu memetikkan.”
Dengan lincah monyet naik ke dahan tertinggi. Ia memetik buah yang paling matang dan memakannya sendiri. Satu, dua, sepuluh. Kepiting berteriak dari bawah agar dilemparkan satu saja. Monyet memilih kesemek paling hijau dan paling keras, lalu melemparkannya sekuat tenaga. Buah itu menghantam punggung kepiting, dan kepiting yang malang itu terkapar parah. Monyet turun dengan perut penuh dan pergi sambil bersiul.
Anak-anak kepiting menangis melihat keadaan orang tua mereka. Tiga sahabat keluarga datang mendengar kabar itu: buah kastanye, seekor lebah, dan lesung batu yang berat. Dalam banyak versi ikut pula seonggok kotoran sapi, yang tubuhnya licin dan tak disangka-sangka berguna. Mereka menyusun rencana di rumah monyet ketika pemiliknya sedang pergi.
Malam itu monyet pulang kedinginan dan duduk di dekat tungku. Kastanye yang bersembunyi di dalam abu meletus panas dan mengenai dadanya. Ia berlari ke tempayan air untuk mendinginkan luka, dan lebah yang menunggu di sana menyengat wajahnya. Monyet melompat keluar rumah dan terpeleset pada kotoran sapi di ambang pintu. Saat ia jatuh telentang, lesung dari atas atap menimpa tubuhnya dan menahannya di tanah.
Anak-anak kepiting keluar sambil mengacungkan capit. Monyet yang tak bisa bergerak itu akhirnya memohon ampun. Dalam sebagian versi yang lebih lembut, ia dilepaskan setelah berjanji tidak akan menipu siapa pun lagi. Pohon kesemek itu pun kembali menjadi milik keluarga kepiting, yang buahnya kini dibagi kepada semua sahabat yang telah membantu.
💖 Pesan Moral
- Menanam itu lambat, tetapi hasilnya milik yang merawat. Kesabaran kepiting mengalahkan kepuasan sekali telan.
- Waspadai bantuan dari orang yang pernah menipumu. Monyet menawarkan jasa hanya saat ada yang bisa ia ambil.
- Yang kecil bisa kuat kalau bersatu. Kastanye, lebah, dan lesung tak berarti sendiri-sendiri, tetapi bersama mereka menjatuhkan si lincah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi Saru Kani Gassen (Pertarungan Monyet dan Kepiting), cerita rakyat Jepang yang punya banyak variasi tokoh dan akhir.