Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Kintaro, Anak Gunung

3 menit baca

Kintaro menunggangi beruang dengan kapak di pundak, dalam lukisan Katsushika Hokusai. Gambar: Katsushika Hokusai · Public domain · sumber

Di hutan Gunung Ashigara, jauh dari jalan yang dilalui orang, ada seorang anak yang tidak pernah belajar takut pada beruang. Namanya Kintaro. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah pondok, dan teman bermainnya bukan anak-anak desa, melainkan kera, kelinci, rusa, dan seekor beruang besar.

Sejak kecil tenaganya sudah tidak wajar. Pada usia yang masih bisa dihitung dengan jari, ia sanggup mengangkat kapak yang lebih besar dari tubuhnya dan menebang pohon seperti orang dewasa memotong sayur. Kapak itu ia panggul ke mana-mana. Setiap pagi ia pergi membantu ibunya mencari kayu bakar, lalu setelah pekerjaan selesai, ia mengumpulkan kawan-kawannya di tanah lapang untuk bermain sumo.

Aturannya sederhana. Kintaro duduk sebagai wasit, atau ikut bertanding jika ada yang berani menantang. Kelinci melawan rusa, kera melawan beruang. Yang menang mendapat kue nasi buatan ibunya. Yang kalah juga mendapat kue, karena Kintaro tidak suka ada yang pulang dengan perut kosong.

Suatu hari, Kintaro dan rombongannya hendak menyeberang ke sisi lain lembah, tetapi sungai sedang meluap dan tidak ada jembatan. Hewan-hewan mundur ketakutan. Kintaro memandang sebatang pohon besar di tepi sungai, lalu memeluk batangnya dan mendorong sekuat tenaga. Akarnya terangkat dan pohon itu rebah, tepat melintang di atas arus. Satu per satu kawan-kawannya menyeberang di atasnya.

Tanpa disadari Kintaro, seorang pria berpakaian penebang kayu sedang memperhatikan dari balik semak. Ia sebenarnya Usui Sadamitsu, pengikut panglima termasyhur Minamoto no Raiko, yang sedang berkeliling mencari orang-orang kuat. Ia mengikuti anak itu sampai ke pondok, lalu menantangnya beradu tenaga dengan cara saling menekan telapak tangan. Berkali-kali dicoba, tak ada yang menang.

Sadamitsu tertawa puas, lalu mengaku siapa dirinya dan menawarkan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh Kintaro: ikut ke ibu kota dan menjadi samurai.

Kintaro memandang ibunya. Sang ibu tahu hari itu akan datang. Ia tidak menahan anaknya, walau ia akan tinggal sendirian di gunung.

“Pergilah. Kekuatanmu terlalu besar untuk dipakai menebang kayu saja.”

Kintaro berpamitan pada beruang, kera, kelinci, dan rusa, lalu turun gunung. Di ibu kota ia diberi nama Sakata no Kintoki dan menjadi salah satu dari empat pengawal andalan Raiko, yang kisah-kisah kepahlawanannya diceritakan turun-temurun. Sampai sekarang, di Jepang, boneka Kintaro dengan kapak di pundak dipajang pada Hari Anak, disertai harapan agar anak-anak tumbuh sekuat dan seberani dia.

💖 Pesan Moral

  • Tenaga besar paling indah saat dipakai membantu. Kintaro merobohkan pohon supaya kawan-kawannya bisa menyeberang, bukan untuk pamer.
  • Bakat perlu keluar dari tempat asalnya. Sebesar apa pun kemampuan seseorang, ia tak akan berkembang jika tak pernah diberi tantangan baru.
  • Melepas anak adalah bentuk cinta yang berat. Sang ibu rela sepi agar anaknya menemukan jalannya sendiri.
  • Yang kalah tetap perlu makan. Pertandingan yang baik membuat semua orang pulang sebagai teman.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Jepang tentang Kintaro, yang dikaitkan dengan tokoh Sakata no Kintoki dan Gunung Ashigara.