Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Hong Gildong

3 menit baca

Naskah cetak Hong Gildong-jeon dalam huruf hangeul. Gambar: Jocelyndurrey · CC BY-SA 4.0 · sumber

Ada satu kalimat yang tak boleh diucapkan Hong Gildong di rumahnya sendiri: “Ayah.” Bocah itu putra seorang menteri besar Joseon, cerdas dan cepat belajar, jauh melebihi kakaknya. Namun ibunya, Chunseom, adalah seorang pelayan. Menurut hukum waktu itu, anak dari ibu rendah tak bisa memanggil ayahnya “ayah”, tak bisa memanggil kakaknya “kakak”, dan tak bisa ikut ujian negara.

Suatu malam Gildong berlatih pedang di halaman di bawah sinar bulan. Ayahnya melihat dan bertanya mengapa ia belum tidur. Gildong membungkuk. “Hamba dilahirkan sebagai manusia, tetapi tak dapat memanggil ayah sebagai ayah. Bagaimana hamba bisa tidur?”

Sang menteri sedih, tetapi ia hanya menegurnya. Di rumah itu ada seorang selir yang iri kepada Gildong. Ia membayar seorang pembunuh bayaran untuk mendatangi kamar anak itu. Namun Gildong, yang telah mempelajari ilmu dari kitab-kitab rahasia, mengalahkan pembunuh itu dengan ilmu sihirnya.

Ia tahu tak ada lagi tempat baginya di rumah. Ia menghadap ayahnya untuk pamit. Akhirnya, setelah semua itu, sang menteri berkata, “Mulai malam ini, kau boleh memanggilku ayah.” Gildong bersujud sambil menangis, lalu pergi.

Ia berkelana sampai ke sarang sekawanan penyamun di pegunungan. Untuk memimpin mereka, ia mengangkat sebongkah batu raksasa, lalu menyusun rencana merampok kuil Haeinsa yang kaya tanpa setetes darah pun. Ia menamai kelompoknya Hwalbindang, kumpulan yang membantu kaum papa.

Sejak itu, para pejabat korup di delapan provinsi mulai kehilangan lumbung dan harta. Hasil rampokannya dibagikan kepada petani miskin. Rakyat menyukainya, sedangkan raja kebingungan. Pasukan dikirim, dan Gildong selalu lolos. Ia membuat tujuh orang-orangan dari jerami yang berubah menjadi tujuh Gildong, dan masing-masing muncul di provinsi berbeda dalam waktu yang sama. Saat pasukan akhirnya mengira telah menangkapnya, tawanan itu tetap saja berubah menjadi jerami.

Raja kemudian menekan keluarganya. Ayah Gildong ditahan dan kakaknya dipaksa memburunya. Gildong, yang tak mau keluarganya menderita, menyerahkan diri ke istana dengan kemauannya sendiri, lalu berkata bahwa ia cuma ingin satu hal: pengakuan. Bila raja mengangkatnya sebagai Menteri Perang, sekali saja, ia akan pergi selamanya.

Raja akhirnya setuju. Gildong datang ke istana dengan pakaian menteri, memberi hormat, dan berterima kasih. Lalu ia terbang ke awan dan meninggalkan Joseon.

Ia berlayar bersama para pengikutnya ke selatan, dan pada akhirnya menemukan negeri kepulauan bernama Yuldo. Di sana ia menjadi raja, memerintah dengan adil, dan di negerinya tak seorang pun dinilai berdasarkan siapa ibunya. Setelah ayahnya meninggal, ia kembali sebentar untuk berkabung sebagaimana seharusnya seorang anak.

💖 Pesan Moral

  • Hukum yang menghina manusia sejak lahir melahirkan pemberontakan. Bakat yang ditolak akan mencari jalan lain.
  • Ketidakadilan pribadi bisa diubah menjadi kepedulian. Gildong mengerti rasanya tak dianggap, maka ia membela yang tak dianggap.
  • Yang paling dirindukan sering hal yang sederhana. Seluruh petualangan ini berawal dari satu kata: ayah.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi hikayat klasik Korea Hong Gildong-jeon. Karya ini secara tradisional dikaitkan dengan Heo Gyun (1569–1618), meskipun para ahli masih memperdebatkan hal itu; naskah hangeul yang ada berasal dari masa jauh lebih kemudian.