Shim Cheong, Putri yang Berbakti
Kolam teratai di Yangpyeong, Korea. Dalam kisah ini, Shim Cheong kembali dari laut di dalam sekuntum teratai. Gambar: Spark0621 · CC BY-SA 3.0 · sumber
Shim Hak-gyu sudah buta ketika putrinya lahir, dan ibunya meninggal tak lama sesudah itu. Lelaki itu menggendong bayinya dari rumah ke rumah, memohon kepada para ibu yang sedang menyusui agar sudi memberi sedikit air susu. Begitulah Shim Cheong tumbuh.
Pada usia belasan tahun, gadis itu sudah berbalik mengurus ayahnya. Ia menumbuk padi dan menjahit untuk orang lain, dan bila perlu mengemis. Ia menuntun ayahnya berjalan, dan mengulang kepadanya apa saja yang terlihat di jalan. Para tetangga menjadikannya contoh bagi anak-anak mereka.
Suatu hari, ketika pulang terlambat, Shim tua keluar mencari putrinya dan terjatuh ke parit. Seorang biksu menolongnya dan berkata, “Sekiranya Tuan mempersembahkan tiga ratus karung beras kepada Sang Buddha, mata Tuan akan terbuka.” Tanpa berpikir panjang, Shim tua menyanggupinya.
Sampai di rumah ia baru menyadari apa yang telah ia lakukan. Mereka tak punya sekarung pun. Ia menceritakannya kepada Shim Cheong sambil menangis. Gadis itu menenangkannya, lalu diam-diam berdoa setiap malam.
Tak lama kemudian ia mendengar kabar bahwa para pelaut yang berlayar ke Tiongkok mencari seorang gadis untuk dipersembahkan kepada laut di perairan Indangsu, yang terkenal ganas. Bayarannya mahal. Shim Cheong mendatangi mereka dan menawarkan dirinya, dengan harga tiga ratus karung beras yang harus diberikan ke kuil.
Ayahnya baru tahu pada pagi keberangkatan. Lelaki buta itu meraung dan berusaha menahan putrinya, tetapi berasnya sudah diserahkan, dan Shim Cheong tahu orang tak boleh mengingkari kesepakatan. Ia berlutut di hadapan ayahnya untuk terakhir kali, lalu pergi.
Di tengah Indangsu, ombak menggunung. Shim Cheong naik ke haluan, berdoa untuk mata ayahnya, menutup wajah dengan lengan bajunya, dan melompat.
Namun lautan menerimanya dengan lembut. Raja Naga, yang tergerak oleh bakti gadis itu, menyambutnya ke istana di dasar laut. Ia pun bisa bertemu kembali dengan ibunya yang telah tiada. Setelah beberapa waktu, sang raja menaruhnya di dalam sekuntum teratai raksasa dan mengirimnya ke permukaan.
Para pelaut yang kembali ke tempat itu melihat bunga aneh tersebut mengapung, lalu mengambilnya dan mempersembahkannya kepada raja. Ketika kelopaknya membuka, Shim Cheong melangkah keluar. Raja jatuh cinta dan menjadikannya permaisuri.
Meski hidup di istana, ia tak bisa melupakan ayahnya. Ia meminta raja mengadakan jamuan besar bagi semua orang buta di seluruh negeri. Berhari-hari ia menunggu. Pada hari terakhir, seorang lelaki tua yang kurus datang tersaruk-saruk. Shim Cheong berlari menuruni tangga dan memanggil, “Ayah!”
Suara itu sudah lama dikira hilang. Shim tua terperanjat, membelalakkan matanya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat wajah putrinya.
💖 Pesan Moral
- Janji gegabah bisa ditanggung orang yang kita cintai. Pikirkan siapa yang akan membayarnya.
- Kasih orang tua dan anak saling membalas. Lelaki yang mengemis susu kelak dituntun oleh bayi yang sama.
- Di tengah pengorbanan, jangan berhenti mengingat yang tertinggal. Permaisuri itu tetap mencari ayahnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita klasik Korea Simcheong-jeon (juga pansori Simcheongga); rinciannya berbeda-beda antarversi.