Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sang Nila Utama dan Singa di Temasek

3 menit baca

Pemandangan Singapura dari Government Hill, sekitar 1830, dari buku memoar Sophia Raffles. Gambar: Sophia Raffles · Public domain · sumber

Sang Nila Utama adalah pangeran Palembang yang menikahi Wan Sri Bini, putri penguasa Bentan. Hidupnya cukup senang, dan ia sangat menyayangi istrinya. Namun pada suatu hari ia berangkat berburu ke pulau seberang, memanjat sebongkah batu besar di pantai, dan memandang ke laut.

Di kejauhan, di seberang selat, tampak hamparan pasir yang putih bagai kain terbentang. Ia bertanya kepada para pengikutnya pulau apa gerangan itu.

“Itu Temasek, Tuanku,” jawab mereka.

Sejak itu ia tak bisa berhenti memikirkannya. Rombongan kapal pun disiapkan, dan mereka mengarungi selat. Ketika perjalanan belum jauh, langit menghitam. Badai datang tiba-tiba. Air laut masuk ke kapal lebih cepat daripada kemampuan awak untuk menimbanya.

“Buang muatan!” teriak nakhoda.

Peti-peti dilemparkan ke laut, dan perbekalan menyusul. Kapal tak juga terangkat. Barang demi barang lenyap ke dalam gelombang, dan air terus naik. Akhirnya tinggal satu benda berharga di atas kapal, yaitu mahkota emas sang pangeran, lambang semua yang ia punya.

Nakhoda memandangnya, lalu berkata dengan takut, “Tuanku, kapal ini tak sanggup menanggung beban mahkota itu. Patik mohon, biarlah ia diserahkan kepada laut.”

Mahkota adalah kehormatan seorang raja. Sang Nila Utama memandangi mahkotanya, lalu memandangi ombak. Ia mengangkatnya dari kepalanya dan memerintahkan agar dilemparkan ke laut.

Benda itu tenggelam. Hampir seketika, kata cerita, angin mereda dan laut tenang. Kapal bergerak perlahan menuju pantai, dan mereka mendarat di Temasek dengan selamat.

Di tanah baru itu rombongan berjalan masuk ke pedalaman sambil berburu. Tiba-tiba seekor makhluk melintas dengan sangat cepat. Tubuhnya merah, kepalanya hitam, dan dadanya putih. Geraknya gagah sekali, dan ia menghilang ke balik pepohonan.

Sang Nila Utama tertegun. “Binatang apa itu?”

Tak seorang pun tahu pasti, sampai seorang pembesarnya, Demang Lebar Daun, menjawab bahwa menurut cerita, makhluk seperti itu disebut singa.

Sang pangeran memandang hutan, pantai, dan muara sungai di hadapannya, lalu mengambil keputusan. Di sinilah ia akan menetap, dan ia akan membangun kota. Kota itu ia beri nama dari binatang yang ia lihat: Singapura, kota singa.

Para ahli hari ini sepakat bahwa singa tidak pernah hidup di pulau itu, dan apa yang dilihat rombongan tersebut masih menjadi teka-teki. Namun nama itu tetap bertahan selama berabad-abad, jauh lebih lama daripada kerajaan yang pertama kali memakainya.

💖 Pesan Moral

  • Kadang kita harus melepaskan kebanggaan agar selamat. Benda paling berharga bisa saja menjadi beban paling berat.
  • Keberanian memulai tak butuh kepastian. Seluruh perjalanan ini berawal dari sehamparan pasir yang tampak dari jauh.
  • Yang kita tinggalkan tidak hilang percuma bila memberi jalan bagi sesuatu yang baru.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Sang Nila Utama dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), Singapura.