Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Puteri Santubong dan Puteri Sejinjang

3 menit baca

Gunung Santubong, Sarawak, yang menurut legenda adalah penjelmaan sang putri. Gambar: User:Jeremylf · Public domain · sumber

Nelayan di muara Sungai Sarawak menunjuk ke arah Gunung Santubong dan berkata: lihatlah, ada retak di puncaknya. Kalau ditanya sebabnya, mereka akan bercerita tentang dua putri kayangan yang dahulu bersahabat.

Pada zaman itu, dua kampung di tepi laut Sarawak, Pasir Putih dan Pasir Kuning, terus-menerus berperang. Raja kayangan yang melihat hal itu merasa iba, lalu mengutus dua putrinya turun ke bumi untuk mendamaikan mereka.

Puteri Santubong mendapat tugas di Pasir Putih. Ia menetap di sana dan mengajari perempuan kampung itu menenun. Hari-harinya diisi bunyi alat tenun, dan kain-kain indah mulai dikenal sampai jauh. Puteri Sejinjang pergi ke Pasir Kuning. Ia mengajari penduduknya menumbuk padi dengan alu, sehingga nasi mereka putih bersih dan lumbung mereka penuh.

Berkat keduanya, dua kampung itu hidup makmur dan peperangan berhenti. Kedua putri itu sering bertemu sambil bercerita, dan keduanya merasa tak ada sahabat yang lebih baik.

Lalu datang Putera Serapi. Pangeran ini tampan dan datang dari sebuah gunung di pedalaman. Ia singgah di Pasir Putih, kemudian di Pasir Kuning, dan memikat hati kedua putri sekaligus. Apakah ia sengaja mempermainkan mereka, atau hanya tak tegas menentukan pilihan, cerita tidak memberi tahu.

Mulai saat itu kedua sahabat tak lagi bercerita dengan bebas. Masing-masing diam-diam mengamati wajah yang lain, membandingkan, dan bertanya-tanya siapa yang lebih cantik. Satu kalimat sindiran dibalas sindiran lain.

Suatu hari, keduanya saling berteriak dari tempat masing-masing. “Tenun saja kainmu!” “Tumbuk saja padimu!” Pertengkaran memanas sampai Puteri Sejinjang mengangkat alu di tangannya dan menghantamkannya ke pipi Puteri Santubong. Pipi itu retak. Puteri Santubong, yang sakit hati dan terluka, menyambar alat tenunnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah kepala Sejinjang.

Lemparan itu kena. Kepala Puteri Sejinjang pecah, dan bagian-bagiannya berhamburan ke laut. Penduduk setempat berkata bahwa itulah pulau-pulau di lepas pantai: Pulau Satang, Pulau Talang-Talang, dan yang lain.

Raja kayangan menyaksikan semua itu dengan sedih. Tugas perdamaian telah berakhir dengan kekerasan oleh kedua utusannya sendiri. Keduanya tak boleh kembali ke kayangan. Puteri Santubong berubah menjadi gunung yang kini memakai namanya, dan retak di pipinya tetap terlihat. Di dekatnya bertebaran pulau-pulau yang dahulu adalah sahabatnya.

Mereka tetap berdekatan selamanya, dipisahkan air, dan tak lagi bercakap-cakap.

💖 Pesan Moral

  • Yang mendamaikan orang lain belum tentu damai dengan dirinya. Kecakapan menyelesaikan konflik tak melindungi kita dari rasa iri.
  • Persahabatan jarang runtuh sekaligus. Ia retak perlahan melalui perbandingan kecil yang dibiarkan.
  • Jangan biarkan pihak ketiga menentukan nilai persahabatan. Kedua putri kehilangan semuanya demi lelaki yang bahkan tak hadir di akhir cerita.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Sarawak, Malaysia, tentang Puteri Santubong dan Puteri Sejinjang; akhir kisahnya berbeda-beda antarversi.