Asal-Usul Nanas
Nanas dalam Flora de Filipinas karya Francisco Manuel Blanco, abad ke-19. Gambar: Francisco Manuel Blanco (O.S.A.) · Public domain · sumber
Aling Rosa hanya punya seorang anak, Pina, dan barangkali karena itulah ia terlalu memanjakannya. Waktu kecil, Pina tak pernah diminta mengerjakan apa pun. Ibunya memasak dan mencuci sendiri, sekaligus mengurus kebun, sementara Pina bermain sepanjang hari. Ibunya senang melihat anak itu tertawa, dan tak terlalu memikirkan hal lain.
Pina pun tumbuh besar, tetapi tetap saja seperti dulu. Ketika ibunya mulai mengajarinya memasak, ia mengerjakannya sambil bersungut-sungut. Dan ada satu kebiasaannya yang membuat Aling Rosa geleng-geleng kepala: Pina selalu tak bisa menemukan apa pun.
“Bu, di mana sendok kayunya?”
“Di tempat biasa, Nak.”
“Tidak ada!”
Padahal sendok itu tergeletak di depan matanya. Pina malas mencari. Lebih mudah berteriak daripada membungkuk.
Suatu hari Aling Rosa jatuh sakit. Tubuhnya panas dan ia tak bisa bangun. Dari tempat tidur ia meminta Pina memasak bubur. Dari dapur segera terdengar suara memanggil.
“Bu, di mana panci?”
Tak lama kemudian: “Bu, di mana berasnya?” Lalu: “Bu, di mana sendok? Bu, korek apinya tidak ada!”
Setiap panggilan memaksa Aling Rosa membuka mata dan menjawab. Kepalanya berdenyut, dan seluruh tubuhnya sakit. Ketika untuk kesekian kalinya terdengar “Bu, di mana…?” kesabarannya yang panjang itu pun habis.
“Kamu ini, Pina! Mencari sendok saja tak bisa! Aku harap kamu punya seratus mata, biar kamu bisa melihat semua yang kamu cari!”
Dapur langsung sunyi. Aling Rosa kaget mendengar ucapannya sendiri, tetapi ia terlalu lemah untuk bangun, dan ia pun tertidur.
Beberapa hari kemudian, setelah tubuhnya agak pulih, ia bangun dan memanggil Pina. Tak ada jawaban. Dapur kosong. Panci tergeletak di tempatnya dan sendok masih di atas meja, tepat di tempat yang selama ini dicari. Ia bertanya kepada para tetangga, dan tak seorang pun melihat anak itu. Ia berjalan dari desa ke desa sambil memanggil namanya.
Lama sesudahnya, saat membersihkan pekarangan, ia menemukan sebatang tanaman yang belum pernah ia lihat. Daunnya panjang dan berduri, dan dari tengahnya tumbuh sebuah buah kuning. Ia berlutut untuk melihatnya, dan seketika dadanya sesak. Seluruh kulit buah itu dipenuhi bulatan-bulatan yang tampak seperti mata, ratusan jumlahnya, semuanya memandang ke arahnya.
Aling Rosa teringat ucapannya, lalu menangis. Dirawatnya tanaman itu dengan penuh kasih sampai akhir hayatnya, dan dinamainya Pina. Orang Filipina masih menyebut buah itu piña.
💖 Pesan Moral
- Kata-kata yang keluar saat marah tak bisa ditarik kembali. Tahan lidah justru ketika paling sulit menahannya.
- Memanjakan bukan selalu tanda sayang. Anak yang tak pernah diajari berusaha akan kesulitan ketika orang tuanya tak lagi kuat.
- Cari dulu sebelum bertanya. Banyak hal sebenarnya sudah ada di depan mata.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Filipina tentang asal-usul nanas (Alamat ng Pinya); nama tokohnya berbeda-beda antarversi.