Preah Thong dan Neang Neak
Naga batu di Angkor Wat mengingatkan pada Neang Neak, putri raja naga dalam legenda asal-usul Khmer. Gambar: Random username 083794703875938 · CC0 · sumber
Orang Khmer punya kebiasaan yang sekilas tampak sepele. Dalam upacara pernikahan, pengantin lelaki memegang ujung selendang pengantin perempuan, lalu mengikutinya masuk ke kamar. Kebiasaan itu dikatakan berawal dari kisah yang sangat tua, dari masa ketika negeri mereka masih berupa laut.
Seorang pangeran dari negeri jauh bernama Preah Thong terusir dari tanah kelahirannya, menurut salah satu versi karena berselisih dengan ayahnya. Bersama para pengikutnya ia berlayar tanpa tujuan pasti, sampai perahunya menepi di sebuah pulau kecil yang muncul dari laut saat air surut. Di pulau itu tumbuh sebatang pohon thlok. Karena itu tempat tersebut disebut Kok Thlok.
Menjelang senja, Preah Thong duduk sendiri di bawah pohon itu ketika air mulai naik. Dari arah ombak terdengar suara orang bernyanyi. Sekelompok gadis muncul dari laut, menari di atas pasir yang basah. Yang paling anggun di antara mereka adalah Neang Neak, putri raja naga, ular agung penguasa dunia di bawah air.
Preah Thong terpaku. Neang Neak pun terkejut melihat manusia di tempat itu, tetapi ia tidak lari. Mereka berbicara sampai bulan tinggi. Pada malam-malam berikutnya sang pangeran selalu kembali ke bawah pohon thlok, dan sang putri selalu muncul bersama pasang naik.
“Rumahku di bawah laut,” kata Neang Neak suatu malam. “Bila engkau ingin menikahiku, engkau harus menghadap ayahku. Peganglah selendangku dan jangan pernah melepaskannya, karena engkau tak bisa menemukan jalan itu sendiri.”
Preah Thong memegang ujung selendang itu. Air laut menelan keduanya, tetapi ia tetap bisa bernapas selama kain itu ada dalam genggamannya. Di dasar laut berdiri istana naga. Raja naga memandang menantunya lama sekali, seorang manusia yang datang tanpa kerajaan dan tanpa harta, hanya berbekal keberanian dan kesetiaan pada seutas kain.
Ia berkenan. Pesta besar pun digelar. Namun seorang raja tidak melepas putrinya dengan tangan kosong, dan seorang menantu perlu tanah untuk memerintah.
Maka raja naga bangkit ke permukaan dan membuka mulutnya, lalu meminum air laut di sekeliling Kok Thlok. Air itu surut, dan daratan luas muncul dari dasar laut, berlumpur dan subur. Di sanalah sungai-sungai mulai mengalir, dan sawah kelak terbentang. Itulah hadiah pernikahan bagi anak dan menantunya.
Preah Thong dan Neang Neak memerintah negeri baru itu. Orang Khmer mengingat mereka sebagai leluhur, dan banyak yang menghubungkan Preah Thong dengan Kaundinya, tokoh dalam catatan kuno tentang kerajaan pertama di wilayah itu. Naga-naga batu yang menjaga jalan masuk Angkor kerap dipahami sebagai jejak kepercayaan yang sama.
Hingga kini, ketika pengantin lelaki Khmer memegang selendang istrinya, ia mengulangi perjalanan yang dulu ditempuh Preah Thong.
💖 Pesan Moral
- Memasuki hidup orang lain butuh kerendahan hati. Preah Thong harus mau dituntun ke dunia yang tidak ia kenal.
- Dua dunia yang berbeda bisa melahirkan sesuatu yang baru. Sebuah negeri lahir dari pertemuan orang asing dan penduduk asli.
- Tradisi kecil menyimpan ingatan besar. Selembar selendang dapat membawa cerita ribuan tahun.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda asal-usul Khmer, Kamboja; rincian tentang tokoh dan kejadiannya berbeda-beda antarsumber.