Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tiga Warna Danau Kelimutu

3 menit baca

Dua dari tiga danau Kelimutu di Flores, tempat arwah beristirahat menurut kepercayaan orang Lio. Gambar: Ignas Kunda · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di puncak Gunung Kelimutu, Flores, tiga danau kawah berdampingan, dan warna airnya bisa berubah dari waktu ke waktu. Ilmuwan menjelaskannya dengan gas dan mineral yang naik dari perut gunung. Orang Lio punya penjelasan yang jauh lebih tua, dan mereka tidak sembarangan bercanda di tempat itu.

Menurut mereka, dulu ada sebuah kampung di puncak gunung yang dipimpin oleh Konde Ratu. Kampung itu tenang walaupun penghuninya berbeda-beda. Dua orang yang paling terkenal di sana punya sifat yang berseberangan. Ata Bupu adalah orang tua yang lembut, ramah, dan mampu menawarkan segala kekuatan jahat. Ata Polo sebaliknya: seorang tukang sihir yang kejam, yang gemar memangsa manusia.

Suatu hari, dua anak yatim piatu datang ke kebun Ata Bupu. Mereka tidak punya siapa-siapa lagi. Dengan tubuh kurus dan baju compang-camping, mereka meminta perlindungan.

Ata Bupu kasihan. Ia mengizinkan mereka tinggal, dengan satu pesan: “Jangan pernah keluar dari ladangku. Selama kalian ada di sini, tak ada yang berani menyentuh kalian.”

Dua anak itu bekerja di ladang dan tumbuh di bawah asuhannya. Namun Ata Polo mencium keberadaan mereka. Ia datang dengan mata lapar. Ata Bupu menghadangnya dan membujuknya. Anak-anak itu masih kecil, katanya, tak ada gunanya sekarang. Tunggulah sampai mereka dewasa.

Ata Polo setuju, lalu pergi sambil tertawa. Ia tahu waktunya akan datang.

Tahun-tahun berlalu. Dua anak itu menjadi muda-mudi yang mandiri, dan Ata Bupu makin tua. Ia tahu ia tak akan sanggup melindungi mereka untuk selamanya. Ketika Ata Polo kembali menagih janji, Ata Bupu tahu kesaktiannya sudah kalah. Ia memilih menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam perut bumi.

Ata Polo berteriak marah dan memburu dua anak muda itu sampai ke lereng. Namun tanah di bawah kakinya tiba-tiba terbuka. Bumi yang selama ini diam ikut bertindak. Ata Polo tertelan beserta seluruh kejahatannya. Dua anak muda itu pun lenyap ke dalam bumi, dengan cara yang diceritakan berbeda-beda oleh para penutur.

Di tiga tempat itu kemudian muncul tiga danau. Tiwu Ata Bupu menjadi tempat orang tua, Tiwu Ata Polo menjadi tempat mereka yang semasa hidupnya jahat, dan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai menjadi tempat muda-mudi.

Orang Lio percaya, arwah orang yang meninggal akan datang ke gunung ini. Di sebuah gerbang, Konde dan Ratu menentukan ke danau mana setiap arwah pergi. Maka bagi mereka, setiap warna air yang berubah terasa seperti suara dari leluhur. Pengunjung yang datang ke sana saat matahari terbit biasanya ikut terdiam, walaupun tak tahu cerita ini.

💖 Pesan Moral

  • Melindungi yang lemah layak dilakukan, sekalipun kita tak sanggup selamanya. Beberapa tahun perlindungan Ata Bupu memberi dua anak yatim kesempatan untuk tumbuh.
  • Cara kita hidup menentukan bagaimana kita dikenang. Orang Lio menaruh makna itu dalam tiga danau yang berbeda.
  • Kejahatan yang rakus menggali lubangnya sendiri. Ata Polo jatuh saat merasa kemenangannya sudah dekat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda orang Lio, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur; salah satu versi. Warna ketiga danau berubah-ubah dan penyebutannya berbeda antarsumber.