Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Umar dan Periuk Berisi Air

3 menit baca

Periuk di atas api, seperti yang dijaga sang ibu sepanjang malam dalam riwayat Aslam. Gambar: Davidbena · CC BY-SA 4.0 · sumber

Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khattab punya kebiasaan keluar pada malam hari untuk melihat sendiri keadaan rakyatnya. Suatu malam, menurut riwayat Aslam, pembantunya, mereka berdua berjalan sampai ke daerah berbatu di luar Madinah yang bernama Harrah Waqim. Dari kejauhan tampak nyala api.

“Wahai Aslam,” kata Umar, “di sana ada kafilah yang kemalaman. Mari kita ke sana.”

Ketika mendekat, mereka tidak menemukan kafilah. Hanya ada seorang perempuan bersama anak-anaknya, dan sebuah periuk yang terletak di atas api. Anak-anak itu menangis merintih.

Umar memberi salam dan meminta izin mendekat. Ia bertanya apa yang terjadi. Perempuan itu menjawab bahwa malam dan udara dingin telah menahan perjalanan mereka.

“Mengapa anak-anak ini menangis?”

“Mereka kelaparan.”

“Apa yang ada di atas api itu?”

Perempuan itu tidak mengenal siapa yang berbicara dengannya. Ia menjawab dengan pahit.

“Air, untuk menghibur mereka sampai tertidur. Allah-lah yang akan mengadili antara kami dan Umar.”

Periuk itu tidak berisi makanan apa pun. Ibu itu hanya memasak air, supaya anak-anaknya percaya bahwa sebentar lagi akan ada yang bisa dimakan, sampai mereka lelah menunggu dan tertidur. Dalam penuturan populer yang beredar kemudian, isi periuk itu disebut batu.

Umar menangis. Ia berbalik dan bergegas pulang ke Madinah, setengah berlari, dengan Aslam di belakangnya. Mereka langsung menuju gudang tepung. Umar mengeluarkan sekarung tepung dan sebungkus lemak.

“Wahai Aslam, letakkan ini di punggungku.”

“Biar saya yang memikulnya, wahai Amirul Mukminin.”

“Apakah kamu akan memikul dosaku pada hari kiamat?”

Maka khalifah yang memerintah wilayah dari Mesir sampai Persia itu berjalan malam-malam dengan karung di punggungnya. Sampai di tempat itu, ia menurunkan bebannya, memasukkan tepung ke dalam periuk, menambahkan lemak, lalu meniup api di bawahnya. Aslam melihat asap mengepul di sela-sela janggutnya. Ia tetap meniup sampai masakan itu matang.

Umar mengangkat periuk dari api, meminta sebuah piring besar, menuangkan makanan, dan meletakkannya di depan anak-anak itu.

“Makanlah.”

Mereka makan sampai kenyang. Perempuan itu terus mendoakan lelaki yang tidak dikenalnya itu. Umar tidak segera pergi. Ia tetap duduk di sana sampai anak-anak yang kecil tertidur, lalu meninggalkan bekal untuk mereka. Baru setelah itu ia bangkit.

Dalam perjalanan pulang ia menoleh kepada Aslam.

“Wahai Aslam, rasa laparlah yang membuat mereka terjaga dan menangis.”

Ia tidak merasa cukup hanya mengirim orang. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa tangisan itu berhenti.

💖 Pesan Moral

  • Pemimpin harus mau mendengar keluhan yang pahit. Umar tidak memperkenalkan diri atau membela diri, ia langsung bertindak.
  • Tanggung jawab tidak bisa diwakilkan begitu saja. Karung itu ia pikul sendiri karena ia tahu siapa yang akan ditanya kelak.
  • Ibu yang miskin pun berjuang menjaga harapan anaknya. Periuk berisi air itu adalah cinta yang kehabisan cara.
  • Kebaikan belum selesai saat bantuan diserahkan. Umar menunggu sampai anak-anak itu tenang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari riwayat Aslam tentang Umar bin Khattab, sebagaimana tercatat antara lain dalam kitab sejarah al-Bidayah wa an-Nihayah. Kesahihan sanadnya tidak dapat kami pastikan.