La Upe dan Ibu Tirinya
Rumah terapung di Danau Tempe, Sulawesi Selatan; air selalu dekat dengan kehidupan warga setempat, seperti dalam kisah La Upe. Gambar: Sergey · CC BY-SA 2.0 · sumber
La Upe masih kecil ketika ibunya meninggal. Rumah yang dulu hangat mendadak terasa besar dan sepi. Ayahnya, yang sering pergi bekerja sampai sore, akhirnya menikah lagi dengan seorang perempuan bernama I Ruga, dengan harapan anaknya kembali punya seseorang yang mengurusnya.
Harapan itu meleset. Selama sang suami di rumah, I Ruga bersikap manis. Begitu lelaki itu berangkat, wajahnya berubah. La Upe disuruh menimba air, mencari kayu, dan membersihkan kolong rumah. Kalau pekerjaannya kurang cepat, ia dimarahi. Kalau piring berbunyi terlalu keras, ia dipukul. La Upe tidak pernah mengadu. Ia takut ayahnya pun ikut berubah.
Tiap hari ia disuruh mencari ikan. Pulang dengan sedikit ikan berarti omelan, dan pulang tanpa ikan berarti lebih dari omelan. Maka La Upe sering berlama-lama di tepi air, duduk sambil menatap pancingnya, sebab di sanalah satu-satunya tempat ia merasa tenang.
Suatu hari ia menarik seekor ikan yang tidak seperti ikan lain. Ikan itu berbicara kepadanya. Ia tahu nasib anak itu, dan ia kasihan. Bersama kata-kata penghiburan, ikan itu mengajarkan sebuah mantra: kalau La Upe benar-benar disakiti lagi, ia boleh mengucapkannya dan menyebut apa yang ia inginkan.
La Upe melepaskan ikan itu kembali ke air. Hari itu ia pulang dengan tangan kosong.
I Ruga sudah menunggu di ambang pintu. “Mana ikannya, anak malas? Seharian kau ke mana saja?” Tangannya terangkat, suaranya melengking sampai terdengar ke tetangga.
La Upe mundur. Dengan suara bergetar ia membaca mantra itu, lalu berkata bahwa ia ingin ibu tirinya lengket seperti perekat.
Saat itu juga tubuh I Ruga menempel pada daun pintu. Ia menarik tangannya dan tak bisa. Ia menggeliat, berteriak, memaki, lalu menangis. Sampai petang ia tetap di situ. La Upe duduk di tangga, tidak tahu harus merasa lega atau takut.
Ayahnya pulang dan kaget bukan main. Sambil tersedu, La Upe akhirnya menceritakan semuanya: pukulan, makian, dan lapar yang selama ini ia sembunyikan. Sang ayah lama terdiam. Ia malu karena tidak pernah bertanya.
Ia kemudian menasihati istrinya dengan keras. Ia berkata bahwa anak ini titipan, bukan pesuruh. I Ruga, yang seharian tak bisa bergerak dan punya banyak waktu untuk berpikir, menangis dan meminta maaf. Sang ayah lalu berlutut di depan putranya dan memintanya memaafkan.
La Upe menatap perempuan itu lama sekali. Lalu ia mengangguk.
Sejak hari itu I Ruga berubah, dan rumah itu perlahan menjadi hangat kembali. Mereka hidup rukun, dan La Upe tak pernah lagi memerlukan mantranya.
💖 Pesan Moral
- Anak yang diam belum tentu baik-baik saja. Orang tua perlu bertanya dan benar-benar mendengarkan, terutama setelah keluarga berubah.
- Kekerasan pada anak harus dihentikan oleh orang dewasa. La Upe butuh ayah yang berani menegur, dan keadaan baru berubah ketika sang ayah melakukannya.
- Kekuatan sebaiknya dipakai untuk menghentikan, tidak untuk membalas. La Upe hanya ingin pukulan itu berhenti.
- Maaf membuka jalan pulang, bagi yang memberi dan bagi yang menerimanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tentang La Upe dan ibu tirinya, I Ruga; salah satu versi.