Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Semut dan Merpati

2 menit baca

Pemburu yang mengincar merpati, dalam cukil kayu kuno koleksi Rijksmuseum. Gambar: Anonim (koleksi Rijksmuseum) · CC0 · sumber

Pada suatu hari yang panas, seekor semut kecil berjalan ke tepi sungai untuk minum. Ia merangkak hati-hati di atas batu yang licin, lalu menjulurkan kepalanya ke air.

Tiba-tiba, embusan angin kencang menerpanya. Semut itu kehilangan pegangan dan terjatuh ke dalam sungai. Arus segera menyeretnya menjauh dari tepian.

Semut itu meronta-ronta, menggerakkan kaki-kakinya yang mungil sekuat tenaga. Tetapi bagi tubuhnya yang sekecil itu, sungai terasa seperti lautan luas. Ia mulai tenggelam, timbul, lalu tenggelam lagi.

Di dahan pohon yang menjulur di atas sungai, seekor burung merpati sedang beristirahat. Ia melihat semut kecil yang berjuang melawan arus itu, dan hatinya tersentuh.

“Kasihan sekali,” pikir merpati. “Kalau tidak segera ditolong, semut itu pasti tenggelam.”

Merpati itu mematuk sehelai daun lebar dari pohon, lalu menjatuhkannya ke air tepat di dekat semut. Dengan sisa tenaganya, semut memanjat naik ke atas daun. Daun itu mengapung terbawa arus, lalu tersangkut di tepi sungai. Semut pun selamat sampai ke darat.

Ia menengadah ke arah pohon dan berseru dengan suara kecilnya, “Terima kasih, Merpati yang baik hati! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.”

Merpati hanya mengangguk ramah. Ia tidak berharap apa-apa. Bagaimana mungkin seekor semut bisa membalas budi seekor burung?

Beberapa hari kemudian, seorang pemburu burung datang ke tepi sungai itu. Ia membawa jaring dan tongkat panjang yang ujungnya diolesi getah lengket untuk menjerat burung. Matanya menangkap merpati yang sedang bertengger di dahan, tidak menyadari bahaya.

Pemburu itu mengendap-endap mendekat. Perlahan-lahan ia mengangkat tongkatnya, membidik merpati yang tidak curiga.

Semut kecil yang sedang lewat melihat semua itu. Ia mengenali merpati yang telah menyelamatkannya. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Semut itu memanjat kaki pemburu, merayap naik ke betisnya, lalu menggigitnya sekuat tenaga.

“Aduh!” teriak pemburu itu kesakitan. Tangannya tersentak, tongkatnya meleset, dan suaranya mengejutkan merpati. Burung itu segera mengepakkan sayap dan terbang tinggi ke angkasa, jauh dari jangkauan si pemburu.

Dari atas, merpati melihat semut kecil di bawah sana. Kini ia mengerti: kebaikan yang ia tanam di tepi sungai telah tumbuh dan kembali kepadanya pada saat yang paling ia butuhkan.

💖 Pesan Moral

  • Satu kebaikan akan berbalas kebaikan. Tolonglah tanpa pamrih, karena kita tidak pernah tahu kapan kita sendiri membutuhkan pertolongan.
  • Tidak ada yang terlalu kecil untuk menolong. Keberanian dan kesetiaan tidak diukur dari ukuran tubuh.
  • Balas budi adalah tanda hati yang mulia.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Semut dan Merpati”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “La Colombe et la Fourmi”.