Rusa di Tepi Kolam
Rusa mengagumi tanduknya di cermin air. Ilustrasi Henri Avelot. Gambar: Henri Avelot · Public domain · sumber
Pada suatu siang yang panas, seekor rusa jantan datang ke sebuah kolam di tengah hutan untuk minum. Air kolam itu begitu jernih dan tenang, sehingga permukaannya memantulkan bayangan seperti cermin.
Ketika menunduk untuk minum, rusa itu melihat bayangannya sendiri. Ia berhenti dan memandanginya dengan kagum.
“Lihatlah tandukku ini,” katanya pada dirinya sendiri. “Begitu tinggi, begitu bercabang, begitu indah. Seperti mahkota seorang raja. Tidak ada hewan lain di hutan ini yang punya hiasan semegah ini.”
Ia memiringkan kepalanya ke kiri, lalu ke kanan, mengagumi tanduknya dari berbagai sudut. Lalu pandangannya turun ke bawah, ke kakinya yang terpantul di air.
Wajahnya langsung berubah masam. “Tapi kaki-kakiku ini,” keluhnya. “Kurus sekali, panjang, dan kecil. Sungguh tidak pantas untuk tubuh semegah ini. Andai saja kakiku seindah tandukku.”
Saat ia sedang asyik meratapi kakinya, tiba-tiba terdengar suara yang membuat bulunya berdiri: gonggongan anjing-anjing pemburu, disusul derap kaki kuda dan suara terompet berburu.
Rusa itu langsung melompat dan berlari sekencang-kencangnya. Kaki-kakinya yang kurus, yang baru saja ia hina, membawanya melesat melintasi padang terbuka. Ia berlari begitu cepat sampai anjing-anjing pemburu tertinggal jauh di belakang.
Tetapi kemudian, ia sampai di tepi hutan yang lebat. Ia menerobos masuk di antara pepohonan, berharap bisa bersembunyi.
Di situlah malapetaka terjadi. Tanduknya yang besar dan bercabang, yang tadi ia banggakan, tersangkut di antara dahan-dahan pohon yang rendah. Ia menarik kepalanya ke kiri dan ke kanan, meronta sekuat tenaga, tetapi tanduk itu terjerat semakin erat di ranting-ranting.
Gonggongan anjing semakin dekat.
Dengan sisa tenaganya, rusa itu menarik kepalanya sekali lagi dengan sangat keras. Beberapa ranting patah, dan akhirnya tanduknya terlepas. Ia melompat keluar dari semak-semak dan berlari secepat kilat, tepat ketika anjing-anjing pemburu tiba di tempat itu. Ia selamat, tetapi nyaris saja tidak.
Malam harinya, di tempat persembunyiannya yang aman, rusa itu merenung dengan napas yang masih terengah-engah.
“Betapa bodohnya aku,” bisiknya. “Kaki yang kuhina justru menyelamatkan nyawaku, sementara tanduk yang kubanggakan hampir saja membawaku pada kematian.”
💖 Pesan Moral
- Yang paling berguna sering kali bukan yang paling indah.
- Jangan meremehkan bagian diri kita yang tampak biasa; bisa jadi itulah kekuatan kita yang sesungguhnya.
- Menilai sesuatu hanya dari penampilan bisa membuat kita salah menghargai apa yang penting.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Rusa di Tepi Kolam”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Cerf se voyant dans l’eau”.