Katak-katak yang Meminta Raja
Para katak dan raja yang mereka minta. Ukiran Gustave Doré (1867). Gambar: Gustave Doré · Public domain · sumber
Di sebuah rawa yang luas, hiduplah ribuan katak. Mereka bebas berenang, bernyanyi di malam hari, dan berjemur di atas daun teratai. Tidak ada yang mengatur mereka, dan tidak ada yang menyuruh-nyuruh mereka.
Tetapi lama-kelamaan, para katak merasa bosan. “Hewan-hewan lain punya raja,” keluh mereka. “Singa memerintah hutan, elang memerintah langit. Kenapa kita tidak punya raja? Kita perlu seseorang yang agung dan berwibawa untuk memimpin kita.”
Maka mereka beramai-ramai berseru ke langit, memohon kepada Dewa Zeus, raja para dewa. “Wahai Zeus, berilah kami seorang raja!”
Zeus mendengar permintaan itu dan tersenyum melihat kekonyolan mereka. Ia mengambil sebatang balok kayu besar, lalu menjatuhkannya ke tengah rawa. Byuuur! Air memercik tinggi, dan gelombang besar menyapu seluruh rawa.
Para katak ketakutan setengah mati. Mereka melompat ke segala arah, bersembunyi di bawah lumpur dan di balik batang-batang rumput. Lama sekali tidak ada yang berani muncul.
Akhirnya, seekor katak yang paling berani mengintip. Balok kayu itu mengapung diam di tempatnya. Ia mendekat sedikit, lalu sedikit lagi. Balok itu tetap diam. Ia menyentuhnya. Tidak ada apa-apa.
Satu per satu katak lain keluar. Tak lama kemudian, mereka sudah berani memanjat ke atas balok itu, melompat-lompat di punggungnya, dan berjemur di atasnya. Raja mereka tidak pernah marah, tidak pernah bergerak, dan tidak pernah memerintah apa pun.
“Raja macam apa ini?” gerutu mereka. “Ia tidak berbuat apa-apa! Kami ingin raja yang sungguhan, yang bisa bergerak dan berwibawa!”
Mereka kembali berseru ke langit. “Wahai Zeus, raja yang Kau berikan tidak berguna. Berilah kami raja yang lain!”
Kali ini, Zeus mulai kesal dengan rengekan mereka. Ia mengirimkan seekor burung bangau besar ke rawa itu.
Bangau itu memang bergerak, dan bergerak dengan cepat sekali. Dengan kakinya yang panjang ia melangkah di sepanjang rawa, dan dengan paruhnya yang runcing ia mulai menangkap katak-katak itu satu per satu untuk dimakan.
Para katak panik. Mereka sekali lagi berseru ke langit, kali ini dengan suara gemetar. “Wahai Zeus, ampunilah kami! Raja yang baru ini akan memusnahkan kami semua! Ambillah ia kembali!”
Tetapi kali ini Zeus menjawab, “Kalian tidak puas dengan kedamaian yang kalian miliki. Kalian tidak puas dengan raja yang tidak menyakiti kalian. Sekarang terimalah akibat dari keinginan kalian sendiri.”
💖 Pesan Moral
- Hati-hati dengan apa yang kamu minta. Keinginan yang tidak dipikirkan matang bisa membawa celaka.
- Syukurilah ketenangan yang sudah ada sebelum menginginkan perubahan hanya karena bosan atau ikut-ikutan.
- Pemimpin yang tampak “membosankan” tetapi tidak menindas sering lebih baik daripada yang tampak gagah tetapi kejam.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Katak-katak yang Meminta Raja”, yang juga digubah oleh Phaedrus dan Jean de La Fontaine dalam “Les Grenouilles qui demandent un Roi”. Dalam beberapa versi, raja kedua adalah ular air, bukan bangau.