Ayah, Anak, dan Keledai
Apa pun yang dilakukan, selalu ada yang berkomentar. Cat air Hortense Haudebourt-Lescot. Gambar: Hortense Haudebourt-Lescot · Public domain · sumber
Seorang petani tua dan anak laki-lakinya hendak pergi ke pasar di kota untuk menjual keledai mereka. Pagi-pagi sekali mereka berangkat, berjalan kaki sambil menuntun keledai itu di sepanjang jalan desa.
Belum jauh berjalan, mereka berpapasan dengan sekelompok gadis yang sedang mengambil air di sumur. Gadis-gadis itu tertawa cekikikan.
“Lihat orang-orang bodoh itu,” kata salah satu dari mereka. “Punya keledai, tapi malah berjalan kaki. Untuk apa punya keledai kalau tidak ditunggangi?”
Mendengar itu, sang ayah menyuruh anaknya naik ke punggung keledai, sementara ia sendiri berjalan di sampingnya.
Tak lama kemudian, mereka melewati beberapa orang tua yang duduk-duduk di bawah pohon. “Nah, itulah anak muda zaman sekarang,” gerutu salah seorang dari mereka. “Tidak tahu menghormati orang tua. Dia enak-enakan duduk, sementara ayahnya yang sudah renta disuruh berjalan kaki.”
Si anak merasa malu dan buru-buru turun. Sang ayah pun naik ke punggung keledai, dan anaknya berjalan di samping.
Belum lama, mereka bertemu dengan beberapa ibu yang membawa bakul. “Ya ampun, tega sekali bapak itu!” seru mereka. “Dia duduk nyaman di atas keledai, sementara anaknya yang masih kecil terseok-seok kelelahan.”
Sang ayah bingung. Akhirnya ia mengajak anaknya naik juga, sehingga keduanya duduk berdua di atas punggung keledai.
Ketika hampir sampai di kota, seorang laki-laki menghentikan mereka. “Apakah keledai itu milik kalian?” tanyanya. “Kalian tidak kasihan? Dua orang menunggangi seekor keledai kecil! Kalian lebih pantas menggendong keledai itu daripada keledai itu menggendong kalian.”
Sang ayah dan anaknya turun. Setelah berpikir cukup lama, mereka mengikat kaki keledai itu pada sebatang galah, lalu memikulnya berdua di pundak mereka.
Pemandangan itu begitu aneh sehingga orang-orang di kota keluar dari rumah dan toko untuk menonton. Mereka tertawa terbahak-bahak dan bersorak-sorai. Ketika rombongan aneh itu menyeberangi jembatan, keledai yang ketakutan oleh keramaian meronta-ronta. Talinya putus, dan keledai itu jatuh ke sungai lalu terbawa arus.
Sang ayah dan anaknya berdiri di atas jembatan dengan tangan hampa. Mereka tidak lagi punya keledai untuk dijual.
Dengan lesu sang ayah berkata kepada anaknya, “Nak, hari ini kita belajar sesuatu yang mahal. Kalau kita berusaha menyenangkan semua orang, pada akhirnya kita tidak menyenangkan siapa pun, termasuk diri kita sendiri.”
💖 Pesan Moral
- Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
- Dengarkan pendapat orang lain, tetapi putuskan dengan akal sehatmu sendiri.
- Orang yang selalu mengikuti omongan orang akhirnya kehilangan arah dan kehilangan apa yang ia punya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel yang sering dikaitkan dengan Aesop, “Ayah, Anak, dan Keledai”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Meunier, son Fils et l’Âne” (versi La Fontaine menyebut tokohnya seorang tukang giling).