Ular Kepala Tujuh dari Danau Tes
Danau Tes di Lebong, Bengkulu, latar kisah Raja Ular. Gambar: sbamueller · CC BY-SA 2.0 · sumber
Orang yang berkunjung ke Danau Tes di Lebong, Bengkulu, akan diingatkan warga untuk menjaga sikap dan ucapan selama berada di tepi airnya. Danau itu luas dan tenang, dan cerita lama tentangnya masih dituturkan.
Dahulu ada sebuah kutei, atau kampung, bernama Rukam, yang dipimpin Raja Bikau Bernamo. Ia berputra Gajah Meram dan Gajah Merik. Sang kakak sudah dewasa dan bertunangan dengan Putri Jinggai dari Suka Negeri, sedangkan adiknya baru berumur tiga belas tahun.
Pesta pernikahan disiapkan berhari-hari. Menurut adat, kedua pengantin harus menjalani upacara mandi di pemandian Aket, di tepi Danau Tes. Rombongan berangkat dengan gembira, dan pasangan itu turun ke air.
Mereka tidak pernah naik lagi.
Orang-orang mencari ke sepanjang tepi danau sampai malam. Yang tersisa hanya air yang kembali tenang. Lalu tersiar kabar yang membuat seluruh Rukam ketakutan: keduanya dibawa ke dasar danau oleh Raja Ular, penguasa tempat itu, seekor ular berkepala tujuh.
Raja Bikau Bernamo mengumpulkan para hulubalangnya dan menawarkan hadiah. Tak seorang pun maju. Melawan ular biasa saja berbahaya, apalagi melawan raja ular di rumahnya sendiri. Di tengah keheningan itu, seorang anak berdiri.
“Biar hamba yang pergi, Ayahanda.”
Gajah Merik tidak banyak bicara. Sang raja memandang putra bungsunya itu dengan hati berat, tetapi tak ada pilihan lain. Anak itu pergi ke tempat bernama Tepat Topes dan bersemadi di sana selama tujuh hari tujuh malam. Ketika selesai, ia mendapatkan dua benda: sebilah keris dan sehelai selendang.
Ia berjalan ke tepi danau dan terjun. Di dasar air ia dihadang dua ekor ular penjaga. Dengan keris itu keduanya dikalahkan. Sampailah ia ke hadapan Raja Ular, dan pertarungan yang sesungguhnya dimulai.
Pertarungan itu berlangsung berhari-hari. Tujuh kepala menyerang dari arah berbeda, dan anak itu tidak berhenti melawan. Pada hari keenam, kerisnya menembus perut sang Raja Ular.
Makhluk raksasa itu menyerah. Ia memohon agar nyawanya diampuni, dan menjanjikan akan melepaskan kedua tawanannya. Gajah Merik menerima. Ia kembali ke permukaan bersama kakak dan calon iparnya, disambut tangis lega seluruh kampung.
Tiba waktunya membicarakan takhta. Gajah Meram, sang putra sulung, menolak naik takhta. Ia tahu siapa yang telah membuktikan diri, dan ia menyerahkan kedudukan itu kepada adiknya.
Gajah Merik mengajukan satu syarat, dan syarat itu mengejutkan semua orang: Raja Ular harus dijadikan hulubalang kerajaan. Musuh yang menculik saudaranya tidak dibunuh, tidak pula diusir. Ia diberi tempat dan tanggung jawab.
Permintaan itu dikabulkan. Maka penghuni dasar danau pun tak lagi menjadi ancaman bagi Rukam, dan warga belajar menjaga sopan santun saat berada di tepi air.
💖 Pesan Moral
- Keberanian tidak menunggu dewasa. Para hulubalang berpengalaman diam, dan seorang anak tiga belas tahun yang berdiri.
- Bersiaplah sebelum bertarung. Tujuh hari semadi lebih berguna daripada terjun dengan tergesa-gesa.
- Musuh yang kalah bisa dijadikan kawan. Gajah Merik menutup pertikaian itu dengan memberi Raja Ular tempat, sehingga tidak ada dendam tersisa.
- Tahu kapan memberi jalan. Gajah Meram melepaskan haknya karena adiknya lebih pantas.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Bengkulu tentang Danau Tes di Lebong.