Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Batu Gantung di Tepi Danau Toba

3 menit baca

Batu Gantung di tebing perairan Parapat, Danau Toba. Gambar: tigoretagore · CC BY-SA 3.0 · sumber

Perahu-perahu yang melintasi perairan Parapat sering melambat di dekat sebuah tebing. Di dinding batunya menggantung sebongkah batu yang dari kejauhan mirip tubuh seorang perempuan. Para pendayung tua biasanya menurunkan suara ketika menceritakan asal-usulnya.

Dahulu di sebuah desa di tepi Danau Toba, hidup seorang gadis bernama Seruni. Ia anak yang rajin. Setiap hari ia membantu orang tuanya di ladang, ditemani seekor anjing kesayangan bernama Toki yang tidak pernah jauh dari kakinya.

Seruni sudah menaruh hati pada seorang pemuda desa. Hanya saja, orang tuanya punya rencana lain. Mereka telah menjodohkannya dengan pariban, sepupunya sendiri, seperti yang lazim menurut adat mereka.

“Dia anak baik, dan keluarga kita akan makin erat,” kata ibunya.

Seruni tidak sanggup membantah di depan orang tuanya, dan tidak sanggup pula menerimanya. Berhari-hari ia makan sedikit dan bicara lebih sedikit lagi. Tidak ada seorang pun yang bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan, dan ia tidak tahu kepada siapa harus mengatakannya.

Suatu pagi ia pergi ke ladang seorang diri bersama Toki. Di tengah jalan ia terus berjalan, melewati ladang, hingga sampai di tebing yang menghadap danau. Ia duduk di sana lama sekali, menangis tanpa suara. Toki menyentuhkan moncongnya ke tangan Seruni, tetapi gadis itu seperti tidak merasakannya.

Pikirannya gelap oleh rasa putus asa. Ia berdiri dan berjalan linglung di atas batu-batu, tanpa melihat ke mana kakinya melangkah. Tiba-tiba tanah seakan hilang. Tubuhnya terperosok ke dalam celah batu yang sempit dan dalam.

Seruni tersadar dan berteriak. Ia berusaha naik, tetapi dinding batu terlalu licin. Toki berlari di bibir lubang sambil menggonggong sekuat tenaga. Lalu batu-batu di sekitarnya mulai bergetar. Celah itu perlahan merapat.

“Parapat… parapat batu!” jerit Seruni. Dalam bahasa Batak, seruan itu berarti merapatlah, wahai batu.

Toki berbalik dan berlari pulang secepat yang ia bisa. Di rumah ia menggonggong tanpa henti dan menarik-narik kain orang tua Seruni, sampai keduanya sadar ada yang tidak beres. Mereka mengikutinya ke tebing dan memanggil-manggil nama anak mereka ke dalam celah. Suara mereka hanya kembali sebagai gema.

Celah itu telah tertutup. Beberapa waktu kemudian, orang-orang melihat sebuah batu menggantung di dinding tebing, bentuknya seperti tubuh seorang gadis. Warga menamainya Batu Gantung. Tempat itu sendiri dikenal sebagai Parapat, mengambil kata terakhir yang diserukan Seruni. Kepada siapa pun yang lewat, batu itu masih menggantung di sana sampai sekarang, menghadap air yang sama.

💖 Pesan Moral

  • Tanyakan, lalu dengarkan. Niat baik orang tua tetap bisa melukai bila tidak pernah bertanya apa yang dirasakan anaknya.
  • Beban yang dipikul sendirian terasa lebih berat. Bila sedang putus asa, carilah satu orang untuk diajak bicara.
  • Kesetiaan tidak perlu banyak kata. Toki tidak bisa berbicara, tetapi dialah yang berlari mencari pertolongan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Batak di Parapat, Sumatra Utara. Nama anjing dan rincian kisahnya berbeda antarpenutur.