Berapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Manusia?
Pakhom harus kembali sebelum matahari terbenam. Gambar: Arkhip Kuindzhi · Public domain · sumber
Pakhom adalah seorang petani di sebuah desa di Rusia. Hidupnya sederhana, tetapi diam-diam ia selalu menggerutu. “Seandainya saja aku punya tanah yang cukup luas, aku tidak akan takut pada siapa pun, bahkan pada Iblis sekalipun.”
Ia mulai menabung, meminjam, dan akhirnya berhasil membeli sebidang tanah. Untuk beberapa waktu ia bahagia. Tetapi tak lama kemudian ia mendengar ada tanah yang lebih subur di daerah lain. Ia menjual tanahnya, pindah, dan membeli lahan yang lebih luas. Panennya melimpah, namun hatinya tetap gelisah. Selalu ada tanah yang lebih besar, lebih murah, lebih baik di tempat lain.
Suatu hari seorang pedagang yang singgah bercerita tentang suku Bashkir di padang rumput yang jauh. “Tanah mereka luas tak berujung, dan mereka mau menjualnya hampir seharga cuma-cuma,” katanya. Mata Pakhom berbinar. Ia segera berangkat membawa uang dan hadiah.
Kepala suku Bashkir menyambutnya dengan ramah. “Harga kami seribu rubel sehari,” katanya.
“Sehari? Ukuran apa itu?” tanya Pakhom heran.
“Semua tanah yang bisa kau kelilingi dengan berjalan kaki dalam satu hari, menjadi milikmu. Tetapi ada satu syarat: kau harus kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam. Kalau tidak, uangmu hilang dan kau tidak mendapat apa-apa.”
Malam itu Pakhom hampir tidak bisa tidur. Ia sibuk menghitung berapa jauh ia bisa berjalan, berapa banyak ladang yang bisa ia buka, berapa sapi yang bisa ia pelihara.
Saat fajar, ia mulai berjalan dengan cepat. Udara masih sejuk dan langkahnya ringan. Setiap kali ingin berbelok, ia melihat tanah di depannya tampak lebih subur. “Sedikit lagi,” pikirnya, “rugi kalau bagian ini dilewatkan.” Ia terus berjalan lebih jauh, menggali lubang sebagai tanda batas, dan melangkah lagi.
Ketika matahari mulai condong, barulah ia sadar betapa jauhnya ia dari titik awal. Kakinya lecet, napasnya tersengal, kemejanya basah oleh keringat. Ia melepas sepatu, membuang bekal dan mantelnya, lalu berlari sekuat tenaga menuju bukit tempat kepala suku menunggu.
Matahari hampir menyentuh cakrawala. Dari kejauhan ia mendengar orang-orang Bashkir bersorak menyemangatinya. Dengan sisa tenaga terakhir Pakhom berlari menaiki bukit dan menjatuhkan diri tepat di depan topi kepala suku, sesaat sebelum matahari lenyap.
“Hebat!” seru kepala suku. “Kau mendapatkan tanah yang sangat luas!”
Tetapi Pakhom tidak bergerak lagi. Jantungnya telah berhenti. Pelayannya mengambil sekop dan menggali sebuah kubur untuknya: panjangnya kira-kira dua meter, cukup untuk tubuh seorang manusia dari kepala sampai kaki. Hanya sebanyak itulah tanah yang akhirnya ia butuhkan.
💖 Pesan Moral
- Keserakahan tidak pernah merasa cukup. Semakin banyak yang dikejar, semakin jauh kita dari rasa puas.
- Tahu kapan berhenti adalah kebijaksanaan. “Sedikit lagi” bisa menjadi langkah yang menghancurkan.
- Yang benar-benar kita butuhkan jauh lebih sedikit daripada yang kita inginkan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Berapa Banyak Tanah yang Dibutuhkan Manusia?” (1886).