Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Sandal Abu Kasim

3 menit baca

Sandal Utsmani abad ke-19. Sandal Abu Kasim tentu jauh lebih lusuh dan penuh tambalan. Gambar: Tidak diketahui (koleksi LACMA) · Public domain · sumber

Di kota Baghdad, hiduplah seorang saudagar kaya bernama Abu Kasim. Ia terkenal di seluruh pasar, bukan karena kedermawanannya, melainkan karena kekikirannya. Dan yang paling terkenal dari dirinya adalah sepasang sandalnya.

Sandal itu sudah sangat tua. Setiap kali robek, Abu Kasim menambalnya dengan kulit atau kain apa saja yang murah. Setiap kali solnya tipis, ia memaku potongan kulit baru. Tahun demi tahun, tambalan demi tambalan, sandal itu menjadi sangat berat, jelek, dan berbau. Orang-orang di Baghdad bahkan menjadikannya bahan lelucon.

Suatu hari, Abu Kasim berhasil membeli barang dagangan dengan harga sangat murah. Untuk merayakannya, ia pergi ke pemandian umum. Ketika keluar, ia tidak menemukan sandalnya. Di tempat itu justru ada sepasang sepatu yang indah. Mengira itu hadiah dari seorang teman, ia memakainya pulang.

Ternyata sepatu itu milik seorang hakim. Pelayan pemandian menemukan sandal Abu Kasim yang terkenal itu di sudut, dan semua orang langsung tahu siapa “pencurinya”. Abu Kasim pun didenda berat.

Dengan kesal, ia melemparkan sandal tuanya ke sungai Tigris. Beberapa hari kemudian, seorang nelayan menemukan sandal itu tersangkut di jalanya. Paku-paku pada sandal itu telah merobek jaringnya. Dengan marah, nelayan itu melemparkannya kembali melalui jendela rumah Abu Kasim. Sandal itu menghantam dan memecahkan botol-botol minyak wangi yang mahal milik Abu Kasim.

Abu Kasim lalu menguburnya di halaman. Tetangganya melihat ia menggali tanah dan mengira ia menyembunyikan harta karun. Ia dilaporkan, dan lagi-lagi harus membayar denda. Ia membuang sandal itu ke saluran air kota, tetapi sandal itu menyumbat saluran dan membuat banjir. Ia kembali didenda.

Ia menjemur sandal itu di atap agar kering sebelum dibakar. Seekor anjing mengambilnya, lalu menjatuhkannya dari atap, tepat mengenai kepala seorang perempuan yang sedang lewat. Sekali lagi, Abu Kasim harus membayar ganti rugi.

Akhirnya, dengan putus asa, Abu Kasim membawa sandalnya ke hadapan hakim. “Tuan Hakim, saya mohon, buatlah surat resmi bahwa sandal ini bukan milik saya lagi. Apa pun yang terjadi karenanya, jangan salahkan saya.”

Hakim dan orang-orang di ruang sidang tertawa terbahak-bahak. Abu Kasim pun akhirnya sadar: karena terlalu pelit membeli sepasang sandal baru, ia justru kehilangan uang berkali-kali lipat lebih banyak.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa masalah kecil yang tidak diselesaikan dengan tuntas sering muncul kembali dalam bentuk yang lebih besar.

💖 Pesan Moral

  • Kikir yang berlebihan sering berujung pada kerugian yang lebih besar.
  • Belajarlah melepaskan barang yang sudah tidak layak, sebelum ia justru membebani hidup kita.
  • Hemat itu baik, pelit itu merugikan, bagi diri sendiri dan orang lain.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah jenaka Arab klasik tentang Abu Kasim (Abu al-Qasim) dari Baghdad, yang dimuat dalam sejumlah edisi dan kumpulan cerita Seribu Satu Malam.