Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Pelukis Cina dan Pelukis Yunani

3 menit baca

Penemuan cermin di hadapan Iskandar. Kisah serupa menyebut dinding yang digosok hingga berkilau seperti cermin. Gambar: Nanha · Public domain · sumber

Pada suatu masa, seorang raja ingin mengetahui siapa seniman paling hebat di dunia. Di istananya berkumpul dua kelompok seniman terkenal: para pelukis dari Cina dan para pelukis dari Yunani. Masing-masing kelompok mengaku lebih unggul.

Untuk menyelesaikan perdebatan itu, raja memberi mereka sebuah tantangan. “Aku akan memberikan kalian dua dinding yang saling berhadapan di sebuah aula. Di tengahnya akan kupasang tirai, sehingga kalian tidak bisa saling melihat. Hiasilah dinding kalian seindah mungkin. Setelah selesai, aku sendiri yang akan menilai.”

Para pelukis Cina segera meminta ratusan jenis cat, kuas, emas, dan bahan-bahan terbaik dari gudang kerajaan. Setiap hari mereka sibuk melukis. Mereka menggambar taman, burung, gunung, dan istana dengan warna-warna yang menakjubkan. Pekerjaan mereka sangat rumit dan memakan waktu berbulan-bulan.

Para pelukis Yunani justru tidak meminta cat sedikit pun. “Kami hanya membutuhkan alat untuk menggosok,” kata mereka. Lalu mereka mengunci diri dan mulai menggosok dinding mereka. Setiap hari, dari pagi hingga malam, mereka menggosok, membersihkan, dan memoles dinding itu, sampai permukaannya halus dan bening, berkilau seperti cermin.

Akhirnya hari penilaian tiba. Raja pertama-tama melihat karya para pelukis Cina. Ia terpukau. Lukisan itu begitu megah dan penuh warna, sampai-sampai ia merasa seperti berdiri di tengah taman surga.

Kemudian raja memerintahkan agar tirai di tengah aula dibuka.

Saat tirai tersingkap, seluruh lukisan indah para pelukis Cina terpantul di dinding para pelukis Yunani yang mengilap. Namun pantulannya tampak lebih hidup, lebih bercahaya, dan lebih dalam. Warna-warnanya berubah mengikuti cahaya, seolah taman itu benar-benar bernapas. Raja dan seluruh hadirin terdiam penuh takjub.

Rumi menuliskan kisah ini dalam Masnavi sebagai perumpamaan tentang hati manusia. Ada dua cara untuk menjadi indah. Cara pertama adalah menambahkan sesuatu: pengetahuan, prestasi, dan hiasan dari luar. Cara kedua adalah membersihkan: menggosok hati dari iri, sombong, dan dengki, hingga hati itu menjadi jernih seperti cermin.

Hati yang jernih tidak perlu menciptakan keindahan sendiri. Ia mampu memantulkan semua keindahan yang ada di sekitarnya, dan pantulan itu bahkan bisa lebih indah dari aslinya.

Kisah ini tidak merendahkan para pelukis Cina. Karya mereka tetap indah dan penuh kerja keras. Namun Rumi ingin menunjukkan bahwa ada jenis keindahan yang tidak bisa dibeli dengan bahan apa pun: keindahan yang lahir dari hati yang bersih, sabar, dan rendah hati. Hati seperti itu tidak sibuk memamerkan dirinya, tetapi justru membuat kebaikan di sekitarnya tampak lebih bercahaya.

💖 Pesan Moral

  • Membersihkan hati sama pentingnya dengan menambah pengetahuan.
  • Hati yang jernih memantulkan kebaikan yang ada di sekelilingnya.
  • Kesederhanaan dan ketekunan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi (abad ke-13), Buku I. Kisah serupa juga terdapat dalam karya penyair Persia lain seperti Nizami dan Al-Ghazali.