Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Saudagar dan Burung Beo

3 menit baca

Pemuda dengan burung beo, lukisan era Safawi sekitar 1575. Gambar: Shaykh Mohammad Sabzevari · Public domain · sumber

Seorang saudagar kaya memelihara seekor burung beo yang sangat indah dan pandai berbicara. Burung itu dikurung dalam sangkar emas di ruang tamu, dan setiap tamu yang datang selalu terkagum-kagum mendengar suaranya.

Suatu hari, saudagar itu bersiap untuk berdagang ke India. Ia bertanya kepada seluruh keluarga dan pelayannya, oleh-oleh apa yang mereka inginkan. Lalu ia bertanya juga kepada beo kesayangannya.

Beo itu menjawab, “Tuanku, di India banyak burung beo seperti aku yang terbang bebas di hutan. Kalau Tuan bertemu mereka, sampaikan salamku. Katakan bahwa ada seekor beo yang merindukan mereka, tetapi terkurung dalam sangkar. Tanyakan, apakah adil mereka menikmati kebebasan, sementara aku hidup terpenjara?”

Saudagar itu berjanji akan menyampaikan pesan itu. Setibanya di India, ia melihat sekawanan burung beo di sebuah pohon. Ia mendekat dan menyampaikan pesan beonya kata demi kata.

Begitu pesan itu selesai, salah seekor beo di pohon itu tiba-tiba gemetar, jatuh dari dahan, dan terkapar diam di tanah. Saudagar itu sangat menyesal. “Aduh, pesan ini telah membunuh seekor burung yang tak berdosa. Mungkin ia kerabat beoku, dan ia mati karena sedih.”

Ketika kembali ke rumah, saudagar itu menceritakan kejadian tersebut kepada beonya dengan berat hati. Mendengar ceritanya, beo di dalam sangkar itu pun gemetar, lalu jatuh dari tenggerannya dan terbaring kaku.

Saudagar itu menangis tersedu-sedu. Ia menyesali kabar yang dibawanya. Dengan sedih ia membuka pintu sangkar dan mengeluarkan tubuh beo itu, lalu meletakkannya di ambang jendela.

Seketika itu juga, beo itu bangkit, mengepakkan sayapnya, dan terbang ke dahan pohon yang tinggi.

Saudagar itu terperangah. “Apa artinya semua ini?”

Dari atas dahan, beo itu menjawab, “Beo di India itu tidak mati, Tuan. Ia mengirimkan pesan kepadaku melalui dirimu: jika ingin bebas, matikan dulu dirimu yang lama. Selama ini suaraku yang merdu justru membuatku terkurung, karena itulah yang membuat Tuan ingin memilikiku. Aku harus melepaskan apa yang membuatku dikagumi agar bisa terbang.”

Beo itu mengucapkan selamat tinggal, lalu terbang menuju kebebasan.

Rumi, yang menuliskan kisah ini dalam Masnavi, mengajak pembacanya merenung: sangkar apa yang mengurung kita? Kadang, yang memenjarakan kita justru hal-hal yang kita banggakan: pujian, gengsi, citra diri, atau kenyamanan. Untuk menjadi bebas, ada bagian dari diri lama yang harus kita relakan “mati”.

💖 Pesan Moral

  • Kebebasan sering menuntut kita melepaskan sesuatu yang selama ini kita genggam erat.
  • Hal yang membuat kita dikagumi bisa juga menjadi sangkar yang mengurung kita.
  • Kebijaksanaan bisa datang dari tempat yang tak terduga, bahkan dari sebuah pesan sederhana.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi (abad ke-13), Buku I.