Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Abu Nawas dan Rumah yang Sempit

3 menit baca

Abu Nawas dalam goresan Kahlil Gibran (1916). Di Nusantara ia dikenal sebagai tokoh jenaka yang cerdik. Gambar: Kahlil Gibran · Public domain · sumber

Di sebuah kampung di Baghdad, hiduplah seorang lelaki miskin bersama istri, ibu, dan lima anaknya di sebuah rumah kecil yang hanya punya satu ruangan. Setiap hari terasa sesak. Anak-anak berebut tempat tidur, istrinya mengeluh tidak bisa memasak dengan tenang, dan ibunya terganggu oleh suara bising.

Karena tak tahan lagi, lelaki itu datang kepada Abu Nawas, yang terkenal cerdik dan suka menolong. “Abu Nawas, rumahku terlalu sempit. Aku tidak punya uang untuk membangun rumah baru. Tolonglah aku, apa yang harus kulakukan?”

Abu Nawas berpikir sejenak, lalu bertanya, “Apakah kau punya ayam?”

“Punya, beberapa ekor.”

“Bawa ayam-ayam itu masuk ke dalam rumah. Biarkan mereka tinggal bersamamu. Datanglah lagi seminggu kemudian.”

Lelaki itu bingung, tetapi ia menurut. Seminggu kemudian ia datang lagi dengan wajah kusut. “Rumahku makin sesak! Ayam-ayam berkotek dan berak di mana-mana.”

“Bagus,” kata Abu Nawas. “Sekarang masukkan juga kambingmu ke dalam rumah.”

Seminggu berikutnya, lelaki itu datang lagi, kali ini nyaris menangis. Kambingnya mengembik sepanjang malam dan memakan apa saja yang ada. Abu Nawas tetap tenang. “Sekarang masukkan juga keledaimu.”

Minggu itu adalah minggu terburuk dalam hidup lelaki itu. Delapan orang, beberapa ayam, seekor kambing, dan seekor keledai berdesakan dalam satu ruangan. Tak ada yang bisa tidur. Ia kembali kepada Abu Nawas dengan putus asa. “Aku sudah tidak sanggup lagi!”

Abu Nawas tersenyum. “Baiklah. Sekarang keluarkan keledaimu.” Seminggu kemudian: “Keluarkan kambingmu.” Seminggu kemudian lagi: “Keluarkan semua ayammu.”

Ketika lelaki itu datang untuk terakhir kalinya, wajahnya berseri-seri. “Abu Nawas, terima kasih! Sekarang rumahku terasa sangat lapang. Kami bisa tidur nyenyak, istriku bisa memasak dengan tenang, dan anak-anak bisa bermain. Rasanya seperti tinggal di istana!”

Padahal, rumah itu sama sekali tidak berubah. Ukurannya sama, penghuninya sama. Yang berubah hanyalah cara lelaki itu memandangnya.

Sering kali kita merasa hidup kita sempit dan serba kurang, sampai suatu hari kita kehilangan sesuatu dan baru menyadari betapa berharganya yang dulu kita miliki. Rasa syukur tidak selalu menunggu keadaan berubah. Kadang yang perlu berubah hanyalah sudut pandang kita.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa keluhan kita sering lahir dari kebiasaan membandingkan, bukan dari kekurangan yang sesungguhnya. Lelaki itu tidak mendapat satu bata pun tambahan, tetapi ia pulang dengan hati yang jauh lebih lapang. Dan hati yang lapang, ternyata, membuat rumah yang sempit pun terasa cukup untuk menampung seluruh keluarga.

💖 Pesan Moral

  • Bersyukurlah atas apa yang kita miliki sekarang, sebelum keadaan mengajari kita dengan cara yang lebih keras.
  • Bahagia sering soal sudut pandang, bukan soal ukuran rumah atau isi dompet.
  • Keadaan selalu bisa lebih buruk; menyadari itu membuat kita lebih menghargai yang ada.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah jenaka yang di Indonesia populer sebagai cerita Abu Nawas. Kisah dengan pola yang sama juga dikenal dalam cerita rakyat Yahudi Eropa Timur dan tradisi lain; penulis aslinya tidak diketahui.