Makanlah, Wahai Bajuku!
Nasreddin Hoca dalam lukisan miniatur. Jubahnya pernah ia "suapi" sup di sebuah pesta. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Suatu hari Nasreddin Hoca diundang ke sebuah pesta pernikahan di rumah seorang saudagar kaya. Hari itu ia baru pulang dari ladang. Tanpa sempat berganti pakaian, ia datang dengan jubah lusuh yang masih berdebu dan sandal yang sudah tipis solnya.
Di pintu, para pelayan memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada yang menyambutnya. Ia dipersilakan duduk di sudut paling belakang, jauh dari hidangan. Para tamu lain yang berpakaian indah dilayani lebih dulu. Piring-piring berisi nasi berempah, daging panggang, dan manisan lewat di depan Nasreddin, tetapi tidak satu pun berhenti di hadapannya.
Setelah menunggu cukup lama dengan perut keroncongan, Nasreddin diam-diam bangkit dan pulang. Di rumah, ia mengenakan jubah terbaiknya: kain beludru dengan sulaman emas di ujung lengan, serban baru yang bersih, dan sepatu kulit yang mengilap. Lalu ia kembali ke pesta.
Kali ini semuanya berubah. Tuan rumah sendiri menyambutnya di pintu. “Silakan, silakan, Tuan Hoca! Suatu kehormatan Tuan datang.” Ia dibawa ke kursi paling depan, di samping para tamu terhormat. Pelayan berebut menuangkan minuman dan meletakkan piring-piring terbaik di depannya.
Nasreddin tersenyum. Ia mengambil ujung lengan jubahnya, lalu mencelupkannya ke dalam mangkuk sup. Setelah itu ia menyodorkan sepotong daging ke kerah bajunya.
“Makanlah, wahai bajuku. Makanlah sepuasmu,” katanya dengan suara cukup keras.
Para tamu terdiam. Tuan rumah terbelalak. “Tuan Hoca, apa yang Tuan lakukan? Mengapa memberi makan pakaian?”
Nasreddin menjawab dengan tenang, “Tadi saya datang ke sini dengan baju lusuh, dan tidak ada yang memberi saya sepotong roti pun. Sekarang saya datang dengan baju bagus, dan semua hidangan disodorkan ke hadapan saya. Jadi jelas, yang diundang dan dihormati di pesta ini bukan saya, melainkan baju saya. Sudah sepantasnya bajulah yang makan.”
Wajah tuan rumah memerah. Beberapa tamu menunduk malu, karena mereka pun tadi melihat Nasreddin duduk di belakang dan tidak berkata apa-apa. Pesta tetap berlanjut, tetapi sindiran itu tinggal lama di hati orang-orang yang hadir.
Sejak hari itu, kisah jubah yang diberi makan diceritakan dari kampung ke kampung, sampai ratusan tahun kemudian. Orang tertawa mendengarnya, lalu diam-diam bertanya pada diri sendiri: berapa kali aku menilai orang dari bajunya?
Di zaman sekarang, “jubah” itu bisa berupa mobil yang kita kendarai, merek tas yang kita bawa, atau jabatan yang tertulis di kartu nama. Tidak salah berpenampilan rapi. Yang keliru adalah ketika kita memberi senyum, pelayanan, dan rasa hormat hanya kepada mereka yang terlihat mampu, lalu memperlakukan yang sederhana seolah-olah tidak ada.
💖 Pesan Moral
- Hormati orang karena dirinya, bukan karena pakaiannya. Penampilan bisa dibeli, budi pekerti tidak.
- Cara kita memperlakukan orang sederhana menunjukkan siapa kita sebenarnya.
- Kadang sindiran yang jenaka lebih mengena daripada kemarahan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat Turki tentang Nasreddin Hoca, tokoh jenaka yang kisahnya tersebar dari Anatolia hingga Asia Tengah.