Juan Tamad Menunggu Jambu Jatuh
Jambu biji ranum yang tak kunjung jatuh ke mulut Juan Tamad. Gambar: Mahalaxmi silwal · CC BY-SA 3.0 · sumber
Di sebuah desa di Filipina, hiduplah seorang pemuda bernama Juan. Orang-orang sekampung menjulukinya Juan Tamad, yang dalam bahasa Tagalog berarti “Juan si Pemalas”. Julukan itu bukan tanpa alasan.
Suatu siang, ibunya menyuruhnya ke pasar. Di tengah jalan, Juan melihat sebatang pohon jambu biji yang buahnya sudah ranum dan menggantung rendah. Perutnya keroncongan. Ia hanya perlu mengulurkan tangan atau memanjat sedikit untuk memetiknya.
Tetapi Juan berpikir, “Kenapa harus repot? Buah yang matang pasti akan jatuh sendiri.”
Maka ia berbaring telentang di bawah pohon, tepat di bawah buah yang paling besar, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Ia menunggu buah itu jatuh langsung ke dalam mulutnya.
Satu jam berlalu. Buah itu tidak jatuh. Seekor semut merayap di pipinya, tetapi Juan terlalu malas untuk menepisnya. Matahari bergeser, panasnya menyengat wajah. Juan tetap berbaring, mulut terbuka, menunggu.
Seorang petani lewat dan bertanya heran, “Juan, sedang apa kau di situ?”
“Menunggu jambu jatuh,” jawab Juan tanpa bergerak.
Petani itu menggeleng-geleng. “Kau bisa memetiknya dalam sekejap.”
“Kalau memetik, aku harus berdiri. Kalau menunggu, aku bisa sambil beristirahat,” jawab Juan dengan bangga, seolah itu jawaban paling cerdas di dunia.
Sore datang. Seekor burung hinggap di dahan dan mematuk jambu itu sampai habis separuh. Lalu angin bertiup dan… buah itu memang jatuh, tetapi tidak ke mulut Juan. Ia jatuh ke rerumputan di sebelah kepalanya, sudah tinggal separuh dan dikerubungi semut.
Juan baru sadar bahwa ia telah membuang seharian penuh, lupa disuruh ibunya ke pasar, dan tetap kelaparan. Dengan wajah lesu ia pulang dan harus menghadapi omelan ibunya.
Ibunya hanya menghela napas. “Juan, jambu itu tidak pernah jauh darimu. Yang jauh hanyalah kemauanmu untuk berdiri.” Malam itu Juan tidur dengan perut kosong, sambil memikirkan kata-kata ibunya.
Kisah-kisah Juan Tamad sangat populer di Filipina, dan selalu membuat pendengarnya tertawa. Namun di balik tawa itu ada cermin bagi kita semua. Berapa sering kita berharap hasil datang sendiri, padahal hanya perlu sedikit usaha untuk meraihnya?
💖 Pesan Moral
- Kesempatan tidak jatuh ke mulut orang yang hanya menunggu. Ulurkan tangan dan raihlah.
- Kemalasan sering membuat pekerjaan kecil menjadi kerugian besar.
- Jangan menunda tanggung jawab; tugas yang diabaikan akan menumpuk.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat jenaka Filipina tentang Juan Tamad, tokoh pemalas dalam tradisi lisan Tagalog.