Topi Jerami untuk Patung Jizo
Patung-patung Jizo di tengah salju, menunggu topi jerami dari kakek yang baik. Gambar: A.Davey from Portland, Oregon, EE UU · CC BY 2.0 · sumber
Dahulu kala di sebuah desa pegunungan di Jepang, hiduplah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Malam Tahun Baru sudah dekat, tetapi mereka tidak punya beras untuk membuat kue mochi, makanan wajib untuk menyambut tahun yang baru.
“Aku akan membuat topi jerami dan menjualnya di pasar,” kata kakek. Bersama nenek ia menganyam lima buah topi kasa dari jerami. Pagi-pagi, di tengah salju yang turun, kakek berangkat ke kota.
Sayangnya hari itu tidak ada yang membeli. Orang-orang sibuk dengan persiapan Tahun Baru mereka sendiri. Sampai sore, kelima topi itu masih utuh di punggungnya. Dengan hati berat kakek berjalan pulang.
Di tepi jalan menuju desa berjajar enam patung batu Jizo, sosok pelindung yang sangat dihormati masyarakat Jepang, terutama sebagai penjaga para pejalan dan anak-anak. Salju menumpuk tebal di kepala dan pundak patung-patung itu.
“Kasihan sekali, kalian pasti kedinginan,” kata kakek. Ia membersihkan salju dari setiap patung, lalu memasangkan topi jerami di kepala mereka satu per satu.
Namun topinya hanya lima, sedangkan patungnya ada enam. Tanpa ragu kakek melepas kain penutup kepalanya sendiri yang sudah usang dan memakaikannya pada patung yang keenam.
Ia pulang dengan tangan kosong dan kepala basah oleh salju. Ketika ia menceritakan apa yang terjadi, nenek tidak marah sedikit pun. “Kau sudah melakukan hal yang baik,” katanya sambil tersenyum. Malam itu mereka tidur dengan perut lapar, tetapi dengan hati yang hangat.
Tengah malam, mereka terbangun oleh suara langkah berat dan nyanyian di luar rumah. “Di mana rumah kakek yang memberi kami topi?” Lalu terdengar bunyi gedebuk di depan pintu, dan langkah-langkah itu menjauh.
Ketika kakek dan nenek membuka pintu, mereka melihat setumpuk hadiah di atas salju: karung-karung beras, mochi, sayuran, ikan, dan berbagai keperluan Tahun Baru. Di kejauhan, di bawah cahaya bulan, tampak enam sosok kecil bertopi jerami berjalan pulang ke tepi jalan desa.
Tahun Baru itu menjadi Tahun Baru paling bahagia bagi kakek dan nenek.
💖 Pesan Moral
- Kebaikan tidak menunggu kita kaya. Kita selalu punya sesuatu untuk diberikan.
- Memberi tanpa berharap kembali membuat hati tetap hangat, bahkan di tengah kekurangan.
- Pasangan yang saling mendukung dalam kebaikan adalah kekayaan tersendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng rakyat Jepang Kasa Jizō (Topi Jerami untuk Jizo), yang populer diceritakan kepada anak-anak menjelang Tahun Baru. Jumlah patung dan rinciannya berbeda-beda menurut versi.