Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tanyakan Saja pada Kudanya

2 menit baca

Ke mana kita pergi? Jangan sampai hanya kudanya yang tahu. Gambar: Katsushika Hokusai (koleksi Rijksmuseum) · CC0 · sumber

Ada sebuah kisah pendek yang sering diceritakan dalam tradisi Zen, dan dipopulerkan oleh biksu Zen asal Vietnam, Thich Nhat Hanh.

Seorang pria sedang menunggang kuda. Kudanya berlari kencang, sangat kencang, menyusuri jalan desa. Debu beterbangan, dan orang-orang menepi memberi jalan.

Di tepi jalan berdiri seorang laki-laki lain yang mengenalnya. Melihat temannya melesat seperti dikejar sesuatu, ia berteriak:

“Hei! Mau ke mana kau buru-buru begitu?”

Penunggang kuda itu menoleh sekilas, berpegangan erat pada tali kekang, dan balas berteriak:

“Aku tidak tahu! Tanyakan saja pada kudanya!”

Lalu ia pun hilang di tikungan jalan.

Kisah ini singkat dan terdengar lucu. Namun begitu direnungkan, banyak dari kita akan tersenyum kecut, karena kita mengenali diri sendiri di dalamnya.

Thich Nhat Hanh menjelaskan bahwa kuda itu adalah kebiasaan-kebiasaan kita: dorongan untuk selalu sibuk, rasa cemas, keinginan untuk terus memiliki lebih, pikiran yang berlari tanpa henti. Kebiasaan-kebiasaan itu menarik kita ke sana kemari, dan kita hanya bisa ikut terbawa tanpa sempat bertanya ke mana sebenarnya kita pergi.

Kita bangun pagi dan langsung meraih ponsel. Kita bekerja sambil memikirkan pekerjaan lain. Kita makan sambil menonton, berbicara sambil mengetik, dan beristirahat sambil merasa bersalah karena tidak bekerja. Hari demi hari lewat dengan cepat, tahun demi tahun berlalu, lalu kita terkejut: ke mana saja waktu pergi?

Latihan yang ia ajarkan sederhana: berhenti sejenak. Tarik napas dengan sadar. Rasakan kaki menyentuh tanah. Dengan berhenti, kita mengambil kembali tali kekang dari tangan sang kuda. Kita tidak harus berhenti selamanya. Kita hanya perlu cukup lama untuk bertanya: “Ke mana aku ingin pergi? Apakah jalan ini benar-benar pilihanku?”

Kuda yang terlatih bukanlah kuda yang tidak pernah berlari. Kuda yang terlatih berlari ke arah yang dipilih penunggangnya.

Mulailah dari hal kecil. Sebelum membuka ponsel di pagi hari, ambil tiga tarikan napas. Saat makan, nikmati satu suapan dengan sungguh-sungguh. Sebelum menjawab pesan yang membuat kesal, berhenti sejenak. Sedikit demi sedikit, kita belajar menjadi penunggang, bukan sekadar penumpang.

💖 Pesan Moral

  • Jangan biarkan kebiasaan dan kesibukan menentukan arah hidupmu. Ambil kembali tali kekangnya.
  • Berhenti sejenak dan bernapas dengan sadar adalah langkah pertama untuk hidup dengan sengaja.
  • Sesekali tanyakan pada diri sendiri: “Sebenarnya aku mau ke mana?”

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Zen yang dipopulerkan oleh Thich Nhat Hanh (1926–2022), antara lain dalam bukunya The Heart of the Buddha’s Teaching (1998). Asal-usul kisahnya sendiri tidak diketahui secara pasti.