Konfusius dan Wanita di Gunung Tai (苛政猛于虎)
Potret Konfusius mengajar, berdasarkan karya Wu Daozi dari Dinasti Tang. "Pemerintahan yang kejam lebih buas daripada harimau." Gambar: Wu Daozi (cetakan berdasarkan lukisannya) · Public domain · sumber
Suatu hari, Konfusius dan beberapa muridnya melakukan perjalanan melewati kaki Gunung Tai. Jalan setapak yang mereka lalui sepi, diapit hutan dan semak belukar.
Di tengah perjalanan, mereka mendengar suara tangis yang sangat memilukan. Mereka mengikuti suara itu dan menemukan seorang perempuan sedang berlutut di depan sebuah makam, menangis tersedu-sedu.
Konfusius menghentikan keretanya. Ia bersandar pada palang kereta dan mendengarkan dengan penuh hormat. Lalu ia mengutus muridnya, Zilu, untuk mendekati perempuan itu dan menanyakan apa yang terjadi.
“Ibu,” tanya Zilu dengan lembut, “tangis Ibu terdengar seperti orang yang sudah berkali-kali tertimpa kemalangan. Apa yang terjadi?”
Perempuan itu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. “Benar, Tuan. Dahulu, ayah mertua saya mati dimangsa harimau di tempat ini. Kemudian suami saya juga mati dimangsa harimau. Dan sekarang, anak laki-laki saya pun mati dimangsa harimau.”
Para murid terdiam ngeri. Tiga orang dalam satu keluarga, semuanya tewas oleh harimau di tempat yang sama.
Konfusius sendiri kemudian bertanya, “Kalau begitu, mengapa Ibu tidak pergi saja meninggalkan tempat yang berbahaya ini?”
Perempuan itu menjawab singkat, “Karena di sini tidak ada pemerintahan yang kejam.”
Jawaban itu membuat semua yang mendengarnya tertegun. Perempuan itu lebih memilih tinggal di tempat yang telah merenggut tiga nyawa anggota keluarganya daripada pindah ke daerah lain, tempat pajak yang mencekik, kerja paksa, dan hukuman sewenang-wenang menunggu rakyat kecil.
Konfusius berbalik kepada murid-muridnya dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Ingatlah ini baik-baik, anak-anakku. Pemerintahan yang kejam lebih buas daripada harimau.”
Dari kisah inilah lahir ungkapan terkenal 苛政猛于虎 (kē zhèng měng yú hǔ), “pemerintahan yang kejam lebih ganas daripada harimau”. Selama lebih dari dua ribu tahun, kalimat ini dikutip untuk mengingatkan para penguasa bahwa rakyat bisa bertahan menghadapi bahaya alam, tetapi akan sangat menderita di bawah pemimpin yang tidak berbelas kasih.
Bagi Konfusius, inti dari kepemimpinan adalah ren (仁), kemanusiaan dan kasih kepada sesama. Pemimpin yang baik bukan yang paling ditakuti, melainkan yang membuat rakyatnya merasa aman dan ingin tinggal di bawah pemerintahannya.
💖 Pesan Moral
- Kekuasaan tanpa belas kasih bisa lebih menakutkan daripada binatang buas.
- Pemimpin sejati membuat orang merasa aman, bukan tertekan. Ini berlaku untuk pemimpin negara, kantor, maupun keluarga.
- Dengarkan suara orang kecil. Satu jawaban singkat seorang perempuan desa bisa menjadi pelajaran bagi para penguasa sepanjang zaman.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Liji (Catatan tentang Ritus), bab “Tan Gong II”, salah satu kitab klasik Konfusianisme, asal-usul ungkapan 苛政猛于虎.