Tuan Ye yang Mencintai Naga (叶公好龙)
Naga dalam gulungan "Sembilan Naga" karya Chen Rong (1244). Indah di atas kertas, tetapi bagaimana jika ia datang sungguhan? Gambar: Chen Rong · Public domain · sumber
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang bangsawan yang dikenal sebagai Ye Gong, Tuan Ye. Ia terkenal di seluruh negeri karena satu hal: ia sangat, sangat mencintai naga.
Kecintaannya itu terlihat di mana-mana. Ikat pinggangnya dihiasi kait berbentuk naga. Gelas araknya diukir naga. Tiang-tiang rumahnya dipahat naga yang melingkar. Dinding, pintu, dan jendelanya dilukisi naga dengan sisik yang berkilauan dan mata yang menyala. Bahkan tirai dan selimutnya pun bersulam naga.
Setiap tamu yang datang selalu mendengarkan Tuan Ye bercerita tentang naga. Tentang betapa agungnya makhluk itu, betapa perkasa, dan betapa ia bermimpi suatu hari bisa bertemu dengan naga yang sesungguhnya.
Kabar tentang kecintaan Tuan Ye akhirnya sampai ke langit. Seekor naga sejati mendengarnya dan merasa sangat tersanjung. “Jarang sekali ada manusia yang begitu mencintai kaumku,” pikirnya. “Aku harus mengunjunginya.”
Maka suatu hari, naga itu turun dari langit. Awan bergulung, angin berembus kencang, dan petir menyambar. Naga itu terbang ke rumah Tuan Ye. Ia menjulurkan kepalanya masuk melalui jendela untuk menyapa, sementara ekornya yang panjang terjulur sampai ke ruang tengah.
Tuan Ye, yang saat itu sedang duduk di dalam, mendongak dan melihatnya: kepala naga yang besar, sisik yang berkilat, mata yang menyala, dan napas yang berembus seperti angin badai.
Wajahnya seketika pucat pasi. Ia menjerit ketakutan, lalu lari tunggang langgang meninggalkan rumahnya. Jiwanya seakan terbang dari tubuhnya, dan ia tidak bisa menguasai dirinya.
Naga itu kebingungan, lalu kembali ke langit dengan kecewa.
Ternyata, yang dicintai Tuan Ye bukanlah naga yang sesungguhnya. Ia hanya mencintai sesuatu yang mirip naga: gambar, ukiran, dan cerita tentang naga, yang indah dilihat tetapi tidak menuntut keberanian apa pun darinya.
Kisah ini diceritakan oleh Zizhang, murid Konfusius, ketika ia sudah lama menunggu untuk diterima oleh Adipati Ai dari negeri Lu, yang konon gemar mencari orang-orang berbakat. Setelah tujuh hari tidak juga dipanggil, Zizhang pergi sambil meninggalkan pesan: sang adipati tampaknya hanya menyukai orang yang “mirip orang berbakat”, bukan orang berbakat yang sesungguhnya, sama seperti Tuan Ye dengan naganya.
Dari sinilah lahir peribahasa 叶公好龙 (Yè Gōng hào lóng), “Tuan Ye menyukai naga”. Peribahasa ini dipakai untuk orang yang mengaku menyukai atau mendukung sesuatu, tetapi lari ketika hal itu benar-benar datang.
💖 Pesan Moral
- Cinta sejati diuji ketika yang dicintai benar-benar hadir, bukan hanya ketika ia indah dibicarakan.
- Jangan hanya mencintai gambaran tentang sesuatu. Impian, perubahan, dan kesempatan nyata sering datang bersama tantangan.
- Selaraskan kata dan perbuatan. Kalau mengaku menghargai orang berbakat, terimalah mereka ketika datang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Xin Xu (Kisah-Kisah Baru) karya Liu Xiang (abad ke-1 SM), bab “Za Shi”, asal-usul peribahasa 叶公好龙.